Sunday, April 17, 2011

Second Chance (Final Part)



Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Waktu masih berjalan rupanya...
Hmmm... ini adalah FF terakhir Auhtor sebelum hiatus..
Huwaaaaa... author jadi sedihhh, tak bersemangat...
Jeongmal Mianhae klo ceritanya masih amburadul dan aneh seperti part sebelumnya..
Author ngebut ini bikinnya hahaha...
Sudahlah sebelum author menangis hrs meninggalakan kegiatan perFFan,
silahkan anda membaca karya terakhir author...
(Note: sepertinya ini blm bisa dikatakan final hehe)
Mohon commentnya...
Kamsahamnida...

  
Leeteuk POV
            Masih terekam jelas dalam ingatanku saat kejadian tadi malam. Saat Jungshin terlihat ketakutan, saat Jungshin berada dalam pelukanku menangis. Sikapnya memang sangat aneh. Seakan dia akan benar-benar pergi jauh, dan aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.
            “Hyung... Gwencana??? Kau tidak ke kamar tadi malam? Jangan-jangan kau tidak tidur?” Aku masih terdiam mendengar pertanyaan Donghae.
            “Ya~~ Hyung ada apa denganmu? Eunhyuk bilang kau tidak siaran tadi malam. Apa terjadi sesuatu?”
            “Mianhae... aku benar-benar sibuk tadi malam...” jawabku datar.
            “Aishhhh... Hyung kau seperti mayat hidup. Jebal katakan apa yang sebenarnya terjadi?”
            “Dia akan meninggalkanku Donghae-ya...”
            “Nugu?”
            “Padahal aku belum sempat mengungkapkan perasaanku...”
            “Ya~~ Hyung... nugu? Suster itu?”
            “Aku masih bisa merasakan tubuhnya berada dalam pelukankku...”
            “Mwo? Kau memelukknya?”
            “Tapi dia bilang tidak bisa bersamaku... Aku bisa gila dibuatnya... Eottokae Donghae-ya!!!” Aku menguncang-guncangkan dongsaengku itu.
            “Jinjja? Dia bilang begitu? Padahal kau belum mengungkapkan isi hatimu Hyung?” Aku mengangguk pelan.
            “Kalau begitu kau harus menemuinya lagi dan membuat suatu hal yang romantis hingga membuatnya tersentuh dan menerimamu Hyung..”
            “Ne... kau benar... aku harus melakukannya sekarang.”
            “Andweee... tidak bisa hari ini Hyung.” Donghae menahanku yang siap berdiri dari sofa.
            “Wae??”
            “Kita harus bersiap-siap. Siang nanti kita harus ke Thailand.”
            “Mwo? Thailand?”
            “Aigoooo... cinta memang telah membuatmu lupa segalanya Hyung... Super Show Hyung... apa kau lupa!!!”
            “Ahhhh... ya... aku benar-benar lupa”
            “Aishhhh... sebaiknya kau memikirkan rencananya dengan matang Hyung. Jadi kau bisa menemuinya langsung setelah kembali ke Korea nanti.”
            “Ya~~ aku dinasehati oleh dongsaengku sendiri... Kau ini memang seorang player Donghae-ya... kasihan Shinhae harus bersamamu hahahaha...”
            “Ya~~~ awas kau Hyung!!!”

Jungshin POV
Beberapa hari kemudian,
            “Jungshin-ya... semakin lama kau terlihat pucat. Gwencana?”
            “Gwencana Sooyoung-ah... migranku akhir-akhir ini sering kambuh.”
            “Aigooo... sebaiknya kau periksakan ke Dokter Han.”
            “Andweeee... aku cukup minum obat.” Tentu saja aku tidak perlu ke Dokter Han. Aku sendiri sudah tahu sakit apa yang menimpaku. Sakitnya sama persis seperti dulu.
            “Kau memang keras kepala... atau jangan-jangan migranmu kambuh karena terlalu banyak memikirkan Park Jungsoo???”
            “Hahahaha aniya...”
            Ya, aku juga memikirkannya. Aku merasa bersalah jika mengingat wajahnya waktu itu. Aku masih ingin berada dalam dekapannya, aku masih ingin melihat senyumannya, dan mendengar suara tawanya yang khas. Tapi aku tidak bisa, aku akan menyakitinya jika aku lebih dekat dengannya.
            Mulai detik ini, aku harus mulai menjauh dari orang-orang yang kusayangi. Aku tidak mau melihat mereka menangis waktu aku pergi nanti. Aku masih terbayang dengan mimpiku itu. Aku menangis bila mengingatnya. Aku pun menangis tadi malam, saat aku menemui omma yang sangat aku cintai.

Flashback
            “Omma... apa kau menyayangiku?”Tanyaku saat tidur dipangkuannya
            “Aigooo... pertanyaan macam apa itu? Mana ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya?” Omma menjitak kepalaku lembut
            “Apa kau akan sedih jika aku pergi?”
            “Aigoooo... ada apa denganmu? Kau aneh sekali...”
            “Aniya... jebal jawablah... apa kau akan sedih jika aku pergi selamanya?”
            “Tentu saja anak bodoh... Omma tidak akan memaafkanmu jika kau pergi meninggalkan omma sendirian.”
            “Mianhae omma...” Aku memeluknya erat.
            “Ya~~ kenapa kau ini? Apa kau akan pergi?”
            “Hehehe.. aniya... itu hanya permisalan... Aku tidak akan pergi dari sisimu omma.”
            “Jangan pernah membuat ommamu ini sedih... Arraseo?”
            “Ne... Arraseo...”

Siang hari,
Author POV
            Seorang yeoja terlihat tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam ruang suster mencari chingunya.
            “Jungshin-ah... jebal... gawat...” Seru yeoja itu terbata-bata
            “Wae? Wae Sooyoung-ah?”
            “Leeteuk-shii... Leeteuk-shii...!”
            “Wae? Kenapa dengan Leeteuk?” Jungshin terlihat panik mendengar nama itu.
            “Dia... sekarang ada dikamar pasien.”
            “Mwo? Dia sakit?”
            “Jebal... kau pergi kesana. Ke kamar no 62...”

Jungsin POV
            Segera aku meninggalkan dokumen-dokumen pasien yang sedang kuperiksa dan berlari ke kamar 62, tempat Leeteuk berada. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku tidak bisa membayangkan wajah Leeteuk yang kesakitan seperti waktu itu.
            “Awwwww...” Tiba-tiba saja rasa sakit itu datang lagi. Aku memegang kepalaku. Jarum-jarum itu kini datang lagi ke dalam otakku.
            “Kumohon sebentar lagi... biarkan aku menemuinya sekali ini saja.” Aku memohon pada Tuhan.
            Mungkin Tuhan mendengar permintaan terakhirku ini. Aku memejamkan mataku dan perlahan rasa sakit itu berkurang.
            “Gomawoe...” Ujarku dalam hati. Aku pun melanjutkan langkahku menuju kamar 62.
            Hatiku berdebar saat memutar kenop pintu. Aku takut melihat ke dalam.
            “Oppa...” Hatiku kini rasanya lepas dari nadinya saat aku melihat namja dengan senyum malaikat itu tergeletak di atas ranjang, matanya tertutup.
            “Dokter... apa yang terjadi padanya?” Aku bertanya pada Dokter Han yang berdiri disamping ranjang.
            “Mendekatlah Jungshin-shii...” Dokter Han tidak menjawab pertanyaanku.
            Akupun mendekatkan diri ke ranjang. Aku meraih jemarinya yang terkulai lemas.
            “Jungshin-ah... kau datang...” Ujar Leeteuk lirih saat membuka matanya dan melihatku.
            “Ne... aku ada disini Oppa... Apa yang terjadi padamu? Gwencana?” Aku menempelkan gengaman tangannya ke pipiku.
            “Aniya... rasanya aku sakit.”
            “Mwo? mana yang sakit? Dokter Han.. tolong sembuhkan Leeteuk-shii...” Ujarku panik.
            “Mianhae... aku tidak bisa menyembuhkannya Jungshin-shii...”
            “Mwo??? Wae??? Apa separah itu sampai Dokter tidak bisa menyembuhkannya?” Aku semakin panik. Aku melihat Leeteuk lagi, kini matanya kembali tertutup.
            “Ne... aku tidak bisa menyembuhkannya... penyakit ini terlalu kompleks... Hanya satu orang yang bisa menyembuhkannya.”
            “Nugu? Nugu? Aku akan mencarinya sekarang dokter.”
            “Kau tidak perlu mencarinya Jungshin-shii... dia sudah ada disini.”
            Aku semakin bingung mendengar perkataan Dokter Han, karena selain kami bertiga, tidak ada seorangpun diruangan ini.
            “Nugu?” Aku benar-benar bingung dan panik. Air mataku mulai tergenang
            “Kau” Jawab Dokter Han menunjukku.
            “Mwo? Aku? Bagaimana... bagaimana bisa aku menyembuhkannya?”
            “Katakan bahwa kau tidak akan meninggalkanku, maka sakitku akan hilang.” Ujar Leeteuk, kali ini suaranya tidak seperti tadi, kali ini suaranya seperti menahan tawa.
            “Mwo??? Apa yang terjadi? Apa kalian mengerjaiku!!!” Seketika aku berdiri dan melepaskan genggaman tanganku melihat Leeteuk dan Dokter Han yang tersenyum geli padaku.
            “Katakanlah kau tidak akan meniggalkannya Jungshin-shii... Kau tidak lihat wajahnya sudah memelas seperti itu..” Ujar Dokter Han menahan tawa.
            “Ne... aku tidak akan bangun dari ranjang ini sebelum kau mengatakannya Jungshin-ah...” sambung Leeteuk
            “Ya~~ Oppa!!! Tega-teganya kau mengerjaiku!!!” Tidak hanya kesal, aku juga malu. Benar-benar malu. Tanpa bisa ditahan air mataku jatuh.
            “Ya~~ Leeteuk-shii kau telah membuat anak orang menangis.”
            Aku melihat Leeteuk terburu-buru menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang, meraih tanganku dan memelukku.
            “Mianhae Jungshin-ah... Apa aku keterlaluan?” Tanyanya, aku hanya mengangguk pelan.
            “Jeongmal minhae...”
            “Aissshhhh... saatnya aku pergi... bersenang-senanglah anak muda hahaha.”
            “Kau keterlaluan oppa...” Ujarku saat Dokter Han pergi.
            “Mianhae... hanya ini satu-satunya cara membuatmu berada dalam pelukanku dan menghentikanmu untuk pergi dariku.”
            “Jangan pernah lakukan hal ini lagi. Aku takut melihatmu tergeletak tak bergerak tadi!!!”
            “Hahaha... tapi aku benar-benar akan tergeletak seperti itu jika kau meninggalkanku.”
            “Wae?”
            “Karena aku ingin bersamamu selamanya... Aku ingin kau menjadi susterku selamanya... karena aku mencintaimu... Saranghae Jungshin-ah...” Leeteuk menatapku lembut dan menyunggingkan senyum malaikatnya lagi.
            “Oppa...”
            “Ya~ Kenapa memanggilku... kau harusnya bilang... nado saranghae oppa”
            “Hahaha... aku tidak mau mengatakannya”
            “Wae??? Wae??? Apa cintaku bertepuk sebelah tangan?”
            “Aniya... aku hanya ingin menghukummu karena kau mengerjainku tadi. Jadi aku tidak akan mengucapkan kata-kata yang sangat kau inginkan itu.” Aku tersenyum melihat raut wajah Leeteuk yang cemberut.
            “Aissshhhh... arraseoo... aku akan memelukmu sampai kau mengatakannya.” Namja dihadapanku itu kembali menarikku dalam pelukannya.
            Aku merasa sangat bahagia berada dalam pelukannya. Pelukan seorang malaikat. Aku pun berdoa agar aku bisa berada dalam pelukan namja yang aku cintainya ini selamanya. Tapi, sepertinya kesempatan doaku untuk dikabulkan lagi telah habis.
            “Arrrrgghhhhhh...” Aku melepaskan pelukan Leeteuk. Aku merintih kesakitan.
            Kali ini bukan hanya jarum dan paku yang menghantam kepalaku. Sepertinya ada martil besar yang berkali-kali menghantam kepalaku. Rasanya sebentar lagi kepalaku akan pecah.
            “Jungshin-ah... ada apa denganmu?” Aku hanya bisa mendengar suara Leeteuk dan merasakan tangannya yang menopang tubuhku yang telah jatuh. Aku tidak bisa membuka mataku. Terlalu sakit untuk melakukannya.
            Aku bisa merasakan tubuhku diangkat dan dibaringkan diranjang, tempat Leeteuk tadi terbaring.
            “Bertahanlah... aku akan memanggil Dokter.” Suara Leeteuk terlihat panik. Aku berusaha meraih tangannya dan menahannya untuk pergi.
            “Andweee... tidak ada yang bisa menyelamatkanku sekarang. Ini waktunya aku pergi.” Aku berusaha bicara walaupun terengah-engah.
            “Mwo??? Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku!” Leeteuk memeluku erat, suaranya bergetar.
            “Mianhae.. aku berbohong... Aku tidak bisa bersamamu oppa... “
            “Wae??? Wae???”
            “Gomawoe sudah memberikan kenangan yang indah untukku...”
            “Jungshin-ah!!” Leeteuk memegang kedua pundakku. Aku tahu dia menangis, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali.
            “Mianhae aku harus pergi sekarang... Mianhae...” Aku juga bisa merasakan air mataku mengalir, bukan air mata kesakitan, tapi air mata kesedihan.
            “Andweeee... kau tidak boleh pergi..”
            “Kau tidak boleh mencariku oppa... karena kau tidak akan bisa menemukanku lagi.”
            “Andweeee aku akan tetap mencarimu... dan aku akan menemukanmu kemanapun kau berada... kau dengar... aku tidak akan melepaskanmu!!!” Leeteuk memelukku erat.
            “ARRRGHHHHHHHH....!!!” Kali ini kepalaku benar-benar pecah. Aku tidak bisa menahannya lagi.
            “Oppa... nado saranghae...”
            Itu adalah kata-kata terakhir yang bisa aku ucapkan dari beribu-ribu kata yang ingin kusampaikan. Ini adalah batasnya.
            “Gomawoe Tuhan... kau telah memberikanku kehidupan yang sempurna untukku.” Ujarku dalam hati.
            Sepertinya seluruh indraku satu persatu telah dilumpuhkan. Aku sudah tidak bisa melihat, aku juga tidak bisa merasakan sentuhan namja yang aku sayangi, hanya indra pendengaranku saja yang berfungsi walau hanya sebentar karena aku masih bisa mendengar suara Leeteuk yang terus memanggil namaku.
            “Gomawoe oppa... selamat tinggal...”

           
           Beberapa detik atau menit atau jam atau hari atau minggu atau bulan atau beberapa tahun kemudian, entahlah, aku pun tak tahu....
            Aku membuka mataku perlahan.
            “Apa ini surga?” Aku berkata dalam hati saat aku mengedarkan pandanganku, dan aku melihat hamparan ruangan putih tak berunjung. Dan aku terduduk sendirian.
            “Apa aku sudah mati?” Aku berdiri dan perlahan berjalan tanpa arah.
            Sepertinya cukup lama aku berjalan, tapi aku tetap tidak menemukan ujung dari ruangan putih besar ini. Sedetik kemudian mataku terasa silau. Ada cahaya yang sangat terang didepanku. Akupun berjalan perlahan menuju cahaya itu. Hampir setengah jarakku dengan cahaya itu sebelum aku berhenti karena mendengar suara lembut yang memanggil namaku.
            “Jungshin-ah... kembalilah!!!” Seru suara itu.
            Aku menengokkan kepalaku untuk mencari sumber suara itu. Aku menemukannya, sosok itu berdiri ditempat aku pertama kali membuka mataku tadi. Aku pun mendekati sosok itu. Entahlah, aku hanya merasa ada yang mendorongku untuk mendekatinya.
            Sekarang aku bisa melihat sosok itu dengan jelas saat jarak kami semakin dekat. Dia adalah seorang namja. Aku pikir dia itu seorang malaikat karena wajahnya tampan sekali. Tapi aku meragukannya. Mana ada malaikat berambut pirang gelap dan memakai kemeja dan celana walaupun berwarna putih. Lagipula dia tidak mempunyai sayap.
            “Jebal... kembalilah Jungshin-ah...” Namja itu tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya. Namja itu manis sekali dengan lesung pipi saat dia tersenyum.
            “Tapi aku harus pergi kecahaya itu...” Ujarku menunjuk cahaya diujung lorong, tapi kini cahaya itu tak seterang tadi.
            “Andweee... belum waktunya kau kesana... Banyak yang harus kau lakukan terlebih dahulu.” Jawab namja itu menarik tanganku dan menuntunku berjalan kearah sebuah pintu besar berlapis emas.
            “Kajja... kita pergi dari sini..” Namja itu membuka pintu besar dengan sekali dorong.
Akupun menurutinya dan melangkahkan kakiku ke balik pintu itu. Namja itu kembali tersenyum, dan sedetik kemudian dia mendorongku. Semuanya menjadi gelap, aku tak bisa merasakan apapun. Aku hanya bisa merasakan tubuhku yang terhempas ke bawah, jatuh tanpa tahu akhirnya...

Leeteuk POV
            “ANDWEEEEE.....”
            “Hyung... ada apa!!! Apa kau bermimpi buruk???”
            Aku masih terengah-engah. Jantungku berdetak dengan kencang. Aku melihat sekelilingku dan hanya menemukan Donghae yang terlihat khawatir melihatku terbangun tiba-tiba.
            “Hyung... gwencana?” tanyanya lagi.
            “Ne... ne... gwencana...”
            “Mimpi apa kau Hyung? Lihatlah kau sampai basah kuyup seperti itu.”
            “Mollayo...”
            Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Mimpi itu terasa sangat nyata. Aku juga bisa merasakan hatiku sakit, tanpa tahu sebabnya.
            Dalam mimpiku, aku berdiri sendirian disebuah lorong. Dan aku mendengar suara itu, suara seorang yeoja.
            “Oppa... Oppa...”
            Aku berlari mencari suara itu. Dan pencarianku terhenti saat aku melihat sosok seorang yeoja berambut pendek tersenyum manis padaku.
            “Oppa... kau datang...”ujar yeoja itu.
            Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya, tapi kakiku berlari tanpa kusuruh. Aku berlari ke arahnya dan memeluk yeoja itu. Entahlah aku merasa sangat merindukannya.
            “Gomawoe oppa... akhirnya kau menemukanku.” Ujar yeoja itu dan membalas pelukanku.
            “Kumohon jangan pergi lagi...” Aku juga tidak tahu mengapa aku mengucapkan kata-kata itu.
            Yeoja itu melepaskan pelukanku dan tersenyum. Dia menciumku lembut.
            “Gomawoe...”Yeoja itu lagi-lagi tersenyum dan mundur meninggalkanku.
            “Ya~~~ “
            Aku berlari mengejarnya, tapi semakin aku mempercepat langkahku, yeoja itu terlihat semakin jauh...
            “ANDWEEEEE...” Yeoja itu menghilang diujung lorong walaupun aku berteriak mencegahnya  pergi.

Sebulan kemudian, di lokasi syuting Super Junior Foresight
Author POV
            “Arrrrghhhhhh...” Seorang namja berambut pirang gelap menjerit kesakitan memegang jari kelingkingnya.
            “Ya~~ Leeteuk Hyung... gwencana?”
            “Aishhhhh... kelihatannya kelingkingku patah.”
            “Mwo??? Jinjja? Jebal pergilah ke Rumah Sakit.”
            “Ne... aku akan pergi setelah syuting ini selesai.”
            “Aishhhh kau ini memang ceroboh Hyung... berkali-kali kau melukai dirimu sendiri.”
            “Hahaha... mollayo Eunyhuk-ah... aku memang tidak beruntung.”
            “Apa perlu kutemani kau ke Rumah Sakit?”
            “Ya~~ apa kau lupa umurku sudah 28 tahun??? Aku bisa pergi sendiri.”
            “Hahaha.. arraseo... berhati-hatilah nanti”


Seoul Hospital,
            “Tok.. Tok...” terdengar suara pintu ruang periksa diketuk.
            “Ne... masuklah.”
            “Annyeong Dokter Han...”
            “Aigooo... Jungshin-ah... tumben kau kemari... apa ada masalah?”
            “Aniya... aku hanya ingin memberimu ini...” Ujar yeoja berambut pendek memakai piyama Rumah Sakit menyerahkan sebuah bungkusan.
            “Mwo? apa ini?”
            “Sebentar lagi aku bisa keluar dari Rumah Sakit. Jadi sebagai ungkapan terima kasih, aku membuat album foto khusus untukmu Dokter, agar kau tidak merindukan pasienmu ini.” Jawab yeoja itu ceria.
            “Aigoooo... ini semua hasil fotomu selama ini Jungshin-ah?” Tanya Dokter Han saat membuka lembaran demi lembaran dalam album itu.
            “Ne... setidaknya aku masih bisa melakukan hobiku selama aku dirawat disini.”
            “Bagus sekali Jungshin-shii... kau harus membuka galleri foto setelah keluar dari Rumah Sakit...”
            “Hahaha... itu memang rencanaku sejak awal. Dengan kondisiku sekarang aku bisa melakukan apapun.”
            “Ne... untunglah operasi pengangkatan kankermu berhasil. Sungguh keajaiban bisa melihatmu seperti sekarang. Kau tahu sebelum operasi seluruh staff dokter pasrah dengan kondisimu waktu itu.”
            “Jeongmal kamsahamnida Dokter Han kau telah berusaha menyembuhkanku.” Jungshin membungkukkan badannya.
            “Aniya... ini semua juga berkat doa seluruh orang yang menyayangimu dan juga semangatmu untuk terus hidup. Kau yeoja yang penuh semangat Jungshin-ah...”
            “Hahahaha... gomapsimnida Dokter Han... Ah ya aku juga membuatkan rangkaian bunga untukmu.” Ujar Jungshin memperlihatkan sebuah vas yang telah berisi mawar putih yang indah.
            “Omo... Omo... kau ini sungguh pasien yang kreatif. Bisa kau letakkan diatas lemari itu Jungshin-ah?”
            “Ne.. tentu saja.” Jungshin tersenyum cerah.
            “Tok.. Tok...” Lagi-lagi pintu ruang periksa itu kembali diketuk selagi Jungshin menata rangkaian bungnya.
            “Ne.. masuklah..”
            “Annyeong Dokter Han...” Sapa seorang namja berambut pirang gelap.
   “Ahhh Leeteuk-shii...” jawab dokter Han.
“Apa yang terjadi padamu sekarang? Apa punggungmu terasa nyeri lagi?” tanya Dokter Han pada namja itu.
“Aniya... kali ini jari kelingkingku patah.” Jawab Namja itu memperlihatkan jari kelingkingnya yang sedikit bengkok.
“Aigoo... Aigooo... kenapa bisa jarimu ini patah??? Apa kau melakukan hal yang ekstrim saat syuting???
“Baiklah Dokter, aku sudah meletakkan bungnya disana.” Ujar Jungshin memotong pembicaraan kedua namja diruangan itu.
“Omo... Mianhae...” Jungshin menyadari kesalahannya.

Jungshin POV
            “Omo... Mianhae...” Aku baru sadar ada pasien lain yang ada diruangan ini.
   Aku melihat namja yang duduk dikursi itu. Mataku tak berkedip saat melihat namja itu. Aku seperti melihat malaikat. Rambutnya yang pirang gelap terlihat cocok dengan kulitnya yang putih. Dan senyumnya itu... Senyum dengan lesung pipi kecil... adalah seorang senyum malaikat. Aku sedikit tersentak melihat namja itu. Sepertinya aku mengenalnya. Namja itu sepertinya tidak asing. Aku benar-benar tidak asing melihat seyuman itu.

Leeteuk POV
            Yeoja itu menatapku tanpa berkedip. Yeoja itu sepertinya adalah seorang pasien karena dia memakai piyama putih dengan bunga-bunga kecil, sama seperti piyama yang aku pakai saat Super Junior mengalami kecelakaan waktu itu. Saat aku harus diopname dan menerima puluhan jahitan dipunggungku ini.
 Aku tersenyum melihat yeoja itu masih fokus menatapku. Tapi semakin lama aku memperhatikannya, aku seperti pernah bertemu dengannya, entahlah, tapi aku tidak asing melihat wajahnya yang gugup itu.
            “Ahhh... chosonghamnida aku mengganggu kalian. Dokter Han sebaiknya aku pergi.” Ujar yeoja itu setelah melepaskan pandangannya dariku.
            “Annyeonghigaseo...” yeoja itu membungkukkan badannya dan tersenyum padaku.
            “Leeteuk-shii... Ya~~ Apa kau masih sadar???” Dokter Han mengagetkanku. Aku tidak sadar aku masih menatap pintu yang ditutup oleh yeoja itu.
            “Yeoja tadi, nugu?” tanyaku pada Dokter Han.
         “Owh... Dia Jungshin, pasien di sini. Dia itu sakit kanker otak, tapi dia telah sehat sekarang. Kankernya 100% telah hilang. Wae? Apa kau mengenalnya?”
            “Andwee... “ Tapi aku masih tidak bisa melupakan senyumannya tadi, senyuman itu terasa sangat familiar.
            “Jadi... sepertinya jarimu harus digips dan diperban Leeteuk-shii.”
            “Leeteuk-shii?” Dokter Han memanggilku lagi. Pikiranku benar-benar terfokus pada yeoja tadi.
            “Ahhh... chosonghamnida Dokter Han... aku permisi sebentar...”
            Senyuman itu benar-benar melekat diotakku. Aku berdiri dari kursiku dan bergegas keluar ruangan meninggalkan Dokter Han yang bingung melihat reaksiku. Aku berlari dilorong Rumah sakit berusaha mencari yeoja itu lagi. Aku ingat, lorong ini adalah lorong yang ada dalam mimpiku, hanya saja lorong ini tidak sepi seperti dalam mimpiku. Aku tahu banyak mata yang menatapku. Aku tidak peduli apakah mereka menatapku karena melihat seorang namja yang berlari-lari kebingungan, atau mereka menatapku karena mereka mengenalku sebagai seorang idola. Tujuanku saat ini hanya satu, menemukan yeoja itu, tanpa ada alasan yang masuk akal.
            Nafasku tersengal-sengal, aku menengok kanan kiri berharap menemukan yeoja itu. Tapi nihil. Ditambah lagi, banyak pasien yeoja yang memakai piyama yang sama. Sudah 5 kali aku salah orang. Aku kembali berlari ke ujung lorong.
            “Gubrakkkkkk....”
            Sepertinya aku menabrak seseorang.
            “Awwwwww....” orang yang aku tabrak ternyata seorang yeoja dan dia merintih memegang lengannya..
            “Chosonghamnida... aku menabrakmu. Gwencana?” Aku berusaha membantunya berdiri.
            “K... Kau???” Aku kaget melihat yeoja yang aku tabrak itu adalah yeoja yang sedang aku cari. Yeoja itu juga terlihat kaget saat melihatku.
           
Author POV
            Terlihat namja berambut pirang gelap dan yeoja berambut pendek saling bertatapan dilorong Rumah Sakit.
            “Apa aku mengenalmu???” Seru namja dan yeoja itu bersamaan.
            “Hahahahaha....” Lagi-lagi keduanya tertawa bersamaan.
            “Mianhae... kau sepertinya tidak asing... entahlah mungkin kita pernah bertemu disuatu tempat.” Ujar Namja itu masih sedikit tertawa.
            “Aku juga tidak asing melihatmu... mungkin kita bertemu saat kau ke rumah sakit ini. Karena hampir separuh hidupku menetap di Rumah Sakit ini.”
            “Jinjja??? Aneh sekali..” Namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
            “Chonun Jungshin-imnida...” Yeoja itu membungkukkan badan dan memperkenalkan dirinya.
            “Ne... Park Jungsoo-imnida... tapi aku lebih sering dipanggil Leeteuk.” Namja itu juga membungkukkan badannya memperkenalkan diri.
            “Leeteuk-shii... mannaseo pangapsumnida...” Jungshin tersenyum
            “Nado mannaseo pangapsumnida Jungshin-shii...” Leeteuk juga tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
            Keduanya kembali tertawa melihat tingkah mereka satu sama lain. Namja dan yeoja itu terlihat asik mengobrol dan bersamaan melangkahkan sepasang kaki mereka pergi. Pergi ke arah lorong, lorong kehidupan yang masih panjang untuk mereka lalui.

THE END




 Nah ni jari kelingking Teukie yang patah... Hadehhhh aneh2 bgt ni oppa emang...


Note :
Oppa.. jagimu ini mau berhiatus sebulan...
Tolong berikan semangat buat belajar hikssss...
My Angel... My Fishy... author bakalan merindukan kalian...

Bagi para readers...
Author bener2 mohon doanya biar bisa lulus ujian komprehensif bulan Mei bsk...
Hikssssss....
Gomawoeeeeee semuaaaaa....


Second Chance (Part 3)


Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Waktu terus berjalan...
Author kebut-kebutan nylesein FF ini sebelum hari berganti...
Sebelum author hrs meninggalkan blog ini sementara hiksss *nangis dipojokan..
Jeongmal Mianhae kalo ceritanya amburadul.. Sumprit deh...
Baiklah silahkan membaca kelanjutan kisah Jungshin-Leeteuk...
Seperti biasa, auhtor selalu menunggu comment dari kalian...
Terima kasih... *kiss and hug





Jungshin POV
            “LEETEUK-SHII....!!!”
            Aku benar-benar kaget melihat namja yang tadi baru saja tersenyum padaku itu kini terlihat hampir ambruk, sekuat tenaga menahan tubuhnya sendiri. Aku menjatuhkan kotak bekal berisi Gimbab begitu saja dan berlari ke arah Leeteuk.
            “Gwencana???” Tanpa dijawabpun aku tahu dia sedang kesakitan.
            Aku mengalungkan lengannya ke leherku dan memapahnya ke kasur di kamarku. Perlahan aku baringkan tubuhnya yang terlihat kurus dari terakhir kali kami bertemu.
            “Aku akan memanggil ambulance...” Belum sempat aku berbalik, tangan Leeteuk dengan cepat menahanku.
            “Andweeee... aku hanya perlu istirahat sebentar.” Ujarnya lirih.
            Akupun tak bisa menolak permintaannya itu, aku benar-benar tak bisa membantah setiap kali melihat wajahnya berubah ekspresi menjadi galak. Terpaksa aku menganggukkan kepalaku. Aku menyelimutkan selimut merah marun ku, berharap itu bisa membuatnya nyaman.
            “Jungshin-shii... tolong ambilkan obatku didalam tas. Mianhae...” pinta leeteuk masih terlihat lemah.
            “Kokcongma... aku akan merawatmu Leeteuk-shii.”
            Aku segera mencari obat yang dimaksudkan Leeteuk. Aku mengambilkan segelas air dan membantunya duduk agar dia bisa minum obat itu.
            “Aigooo Leeteuk-shii... badanmu sedikit demam...” Aku merasakan lengannya panas saat aku menyentuhnya, dan wajahnya yang putih juga terlihat sedikit merah.
            “Apa aku harus menelpon managermu?”
            “Aniya... aku hanya perlu beristirahat.”
            “Arraseo... penjamkan matamu Leeteuk-shii... aku akan mengambil kompres terlebih dahulu.”
           
            Kelihatannya Leeteuk tertidur saat aku kembali setelah mengambil peralatan kompresku. Hatiku terasa pedih melihatnya terbaring dikasurku. Wajah yang biasanya tersenyum manis dengan lesung pipinya itu kini terlihat pucat. Aku bisa melihat rasa sakit diwajahnya itu, alisnya terlihat bertaut.
            “Ya~~ Oppa... gwencana? Kumohon cepatlah sembuh.” Ujarku lirih
            Aku memeras kain kompresku dan meletakkannya perlahan didahi namja itu. Aku memegang pipinya, dan masih terasa panas.
            “Apa sakitmu ini sering kambuh? Seharusnya kau tidak kesini... seharusnya kau istirahat ditempatmu oppa...” Aku menggenggam tangannya.
            “Mianhae...” lanjutku lirih
           
            Aku masih memperhatikan wajahnya sambil mengganti kompres dikepalanya. Sesekali aku melihat alis Leeteuk saling bertaut, wajahnya seperti menahan sakit. Tentu saja aku merasa takut. Suster macam apa aku ini yang hanya bisa melihat pasiennya menahan sakit sendirian.
            “Leeteuk-shii... apa kau mau mendengarkan nyanyianku? Ommaku sering bernyanyi saat aku sakit. Dan itu membuatku merasa lebih tenang...” Aku berujar lirih.
Aku tidak peduli dia mendengarnya atau tidak. Aku hanya ingin merubah wajah kesakitannya itu menjadi wajah malaikat yang selama ini kulihat. Aku menarik nafasku dan mulai menyanyikan lagu yang selama beberapa hari ini selalu kuputar “Banmal Song” dengan suara lirih...
maen cheoeum neoreul bodeon nal
sujub giman hadeon neoye malgeun misodo
oneuri jinamyeon gakkawo jilgeoya
maeil seolleneun gidaereul hae

museun mareul geonde bolkka
eotteohke hamyeon niga useo julkka
soneul geonde boda eosaek hae jilkka bwa
meotjjeok eun useum man useo bwa

uri seoro banmal haneun sa iga dwe gireul
ajik jogeum seotureugo eosaek hande do
gomawo yo raneun maltu daeshin
jomdeo chinhage mareul hae jullae

uri seoro banmal haneun sa iga dwel geoya
hangeol eumsshik cheoncheonhi dagawa
ijen nae dununeul bara bomyeo mareul hae jullae
neol saranghae

*translate
Your bright smile full of shyness
we’ll get closer after today
Every day, I have heart-fluttering expectations
What to say to you
How to get you to laugh
I fear it’ll get awkward when I try to hold your hand
All I can do is smile shyly
Hopefully we can speak banmal to each other
Even though it’s still awkward and unfamiliar
Instead of saying ‘thank you’
Talk to me in a friendlier way
Hopefully we can speak banmal to each other
You walk towards me slowly, step by step
Now look at my two eyes and tell me
I love you


Leeteuk POV
            Aku rasa, sakit yang kurasakan tadi kini mulai berkurang. Aku mengerjapkan mataku, dan sedetik kemudian aku membuka mata, Gelap. Kain kompres jatuh dalam pangkuanku saat aku mencoba bangun dan duduk di kasur kecil ini, mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
            Aku masih bisa melihat wajah Jungshin yang terlihat sangat khawatir saat memapah dan membaringkan tubuhku ke kasurnya tadi. Rasanya aku juga mendengar suaranya melantunkan sebuah lagu, dan suaranya itu benar-benar bisa membuatku tenang dan sedikit melupakan rasa nyeri dipunggungku ini.
            Aku beranjak dari ranjang, meraba-raba mencari saklar lampu.
            “Kleekkkk...”
            Aku mengerjapkan mataku lagi untuk menyesuaikan cahaya lampu yang cukup terang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar Jungshin. Kamarnya tidak terlalu besar, dan minimalis dengan cat putih dan hanya ada meja, kursi, lemari, dan ranjang kecil memenuhi ruangan itu. Aku berjalan ke arah tembok disebelah lemari yang tak begitu tinggi. Di situ aku menemukan banyak foto yang ditempel ditembok.
            “Rupanya dia seorang fotografer juga...” Aku berkata pada diriku sendiri
            Jariku menjelajahi setiap jengkal foto-foto itu. Rupanya Jungshin lebih suka memotret manusia. Aku tertarik melihat satu foto. Di situ Jungshin tertawa lebar diampit Omma, Appa, dan seorang namja yang sangat mirip dengannya, mungkin dia itu oppanya.
            Puas menikmati kamarnya itu, aku beranjak pergi keluar. Ruangan di apartemennya itu juga tidak besar, hanya ada dapur dan ruang TV. Kepalaku celingukan mencari sosok yeoja yang telah merawatku semalaman itu.
            “Aishhhhh apa dia keluar malam-malam lagi???” ujarku
            “Mianhae...” Aku mendengar suara kecil dari yeoja yang sedang aku cari.
            Aku menemukannya sedang tidur pulas di sofa coklat panjangnya. Rupanya di sedang mengigau memanggil ommanya. Aku mendekatinya dan menarik selimutnya yang jatuh ke lantai dan menyelimutkannya ketubuhnya yang meringkuk. Aku berjongkok untuk melihat wajahnya dari dekat.
            “Gomawoe susterku... Mianhae kau harus repot mengurusku... Mianhae aku tidak jadi mengajakmu jalan-jalan...” Aku mengusap keningnya dengan lembut.
            “OMMA!!! MIANHAE!!!” Lagi-lagi Jungshin mengigau dalam tidurnya, tapi kali ini suaranya lebih keras dan wajahnya terlihat ketakuatan.
            “Jungshin-ah... gwencahan??? Tenanglah itu hanya mimpi...” Aku mengusap kepalanya, berharap itu bisa membuatnya tenang. Tapi sepertinya usahaku tidak berhasil...
            “OMMA...” Jungshin berteriak dan duduk terbangun.
            “Jungshin-ah...” Aku memegang kedua pundaknya. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya mulai merah dan aku semakin takut melihat air matanya mulai menetes.
            “Mianhae...” Ucap Jungshin menangis. Tubuhnya semakin bergetar hebat.
            Aku memeluk tubuhnya erat. Aku memegang kepalanya dan mengusap rambutnya untuk menenangkan yeoja yang sekarang masih menangis.
            “Tenanglah Jungshin-ah.... itu semua hanya mimpi.” Ujarku lirih

Jungshin POV
            Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku tahu itu semua hanya mimpi. Tapi mimpi itu terasa sangat nyata. Aku melihat Ommaku menangis histeris, terus memegang tubuh seorang yeoja yang terbujur kaku diranjang pasien. Dia terus memanggil nama yeoja itu...
            “Jungshin-ah... kumohon jangan tinggalkan omma!!!”
            “Jungshin-ah... bangunlah... jebal!!! Omma akan membuatkan makanan kesukaanmu! Jebal bangunlah!”
            “Kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan omma sendirian.. Jungshin-ah... Jungshin-ah!!!”
            “Omma... Mianhae...” Aku masih berteriak walaupun aku sudah terbangun dari mimpiku. Itulah mengapa aku selalu berdoa pada Tuhan agar menyembuhkanku. Aku tidak ingin melihat orang-orang yang aku cintai terluka, menangis karena diriku ini. Aku sudah berjanji pada Omma waktu itu bahwa aku akan sembuh dan bisa kembali berkumpul, tertawa seperti halnya keluarga yang lain.
            “Jungshin—ah... ini semua hanya mimpi... Tenanglah...”
            Aku tidak sadar sedari tadi aku berada dalam pelukan Leeteuk. Aku baru menyadarinya saat jemarinya mengelus-elus rambutku dengan lembut dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan dengan lirih ditelingaku.
            “Leeteuk-shii....” Aku mulai bisa sedikit mengontrol emosiku.
            “Gwencana?” Tangannya kini berganti memegang kedua pipiku, dan aku bisa merasakan jemarinya menyapu lembut air mataku yang masih tersisa.
            “Mianhae...”
            “Berbaringlah, aku akan mengambilkan segelas air.”

Author POV
            “Kamsahamnida Leeteuk-shii...” Jungshin mengambil segelas air putih dari tangan Leeteuk dan meneguknya perlahan.
            “Apa yang terjadi?”
            “Aniya... aku hanya bermimpi buruk... Mianhae mengagetkanmu...”
            Leeteuk mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya saat melihat wajah Jungshin yang masih sedikit syok.
            “Aigoo... apa kau sudah sembuh Leeteuk-shii?” Jungshin kini menatap Leeteuk dan meletakkan telapak tangannya ke dahi Leeteuk, mencoba memeriksa apakah Leeteuk masih demam atau tidak.
            “Gwencana... sudah kubilang aku hanya perlu istirahat. Lagipula ada suster yang telah merawatku semalaman.” Leeteuk meraih tangan Jungshin yang tadi berada di dahinya dan tersenyum lembut menatap Jungshin.
            “Neo gateun saram tto eopseo”
“Jjuwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi”
Ringtone dari iphone Leeteuk berdering keras, mengagetkan namja dan yeoja yang masih saling bertatapan di sofa.
“Yeobboseo” Ujar Leeteuk mengangkat telpon.
“Ne Hyung aku akan segera kesana.”
“Mianhae... aku menginap di rumah chinguku tadi malam.”
“Arraseo... Sampai bertemu disana.”
Leeteuk menutup iphonenya dan kembali ke sofa tempat Jungshin masih terduduk.
“Aku harus pergi sekarang. Tidak apa aku meninggalkanmu sendiri? Gwencana?” tanya Leeteuk terlihat khawatir.
“Aniya Leeteuk-shii... harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri... Aku sudah terbiasa sendirian.” Jungshin tersenyum mencoba menenangkan.
“Arraseo... ah mianhae aku tidak jadi mengajakmu jalan-jalan. Aku akan menebusnya segera.”
“Hahaha... gwencana... aku tidak akan kemana-mana...” Ujar Jungshin tertawa.
“Semoga saja aku masih disini.” Lanjut Jungshin dalam hati.
“Sekali lagi gomawoe kau sudah merawatku. Aku pergi...” Leeteuk mengecup kening Jungshin. Dan itu membuat tubuh Jungshin tiba-tiba kaku.
“Annyeonghigeseyo hahahaha...” Leeteuk tertawa melihat reaksi Jungshin dan melambaikan tangannya, menghilang di balik pintu apartemen, meninggalkan Jungshin yang masih terdiam, syok.


Jungshin POV
Beberapa hari kemudian,
            “Omo... omo... apa kau terlalu banyak memakai maskara Jungshin-ah? Lihatlah lingkaran matamu hitam sekali.” Sooyoung memegang wajahku.
            “Aniyaa...” jawabku lemas.
            “Wae? Gwencana?”
            “Ne... gwencana... aku hanya tidak bisa tidur akhir-akhir ini.”
            “Aigooo.. jebal cuci mukamu. Dokter Han bisa marah melihat wajah susternya lesu dan berantakan seperti ini.
            “Ne...”
            Aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Dan benar saja, mukaku benar-benar berantakan, tidak berubah walaupun sudah kubasuh berkali-kali.
            Aku memang tidak bisa tidur akhir-akhir ini karena setiap aku memejamkan mataku, aku kembali memimpikan omma, appa, oppa, sooyoung yang secara bergantian menangisi sosok yeoja yang terbujur kaku di hadapan mereka. Ditambah lagi, mimpiku tadi malam, aku melihat Leeteuk yang menangisi yeoja itu.  Aku bergidik mengingat mimpiku itu.
            “Apa ini pertanda kesempatanku sudah habis dan aku harus kembali ke hidupku yang dulu?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

            “Jungshin-shii tolong kau antarkan peralatan suntik ini ke bagian farmasi...” Pinta Dokter Han saat aku kembali dari kamar mandi.
            “Ne.. Dokter Han.” Aku mengambil peralatan suntik yang ditata rapi disebuah nampan besi.
            Aku membuka pintu ruang periksa, baru 5 langkah aku berjalan keluar pintu, kepalaku terasa sakit, sakit sekali.
            “PRANKKKK...” Peralatan suntik yang kubawa meluncur dari tanganku dan jatuh berceceran dilantai.
            “Arrrrrrggghhhh....” Aku duduk jongkok dan memegang kepalaku. Aku tidak tahan dengan rasa sakit ini. Seperti ada beribu-ribu jarum dan paku yang ditancapkan di otakku. Rasa sakitnya persis seperti waktu itu.
            “Jungshin-ah... Gwencana? Apa yang terjadi!” Sooyoung berlari ke arahku dan memapahku ke kursi di lorong rumah sakit. Banyak mata yang tertuju ke arah kami. Aku tidak peduli. Rasa sakit ini tak kunjung reda.
            “Jungshin-ah...” Sooyoung memanggil namaku.
            Aku menutup kedua mataku dan berusaha mengatur nafas, berharap sakit ini akan berkurang. Untunglah rasa sakit ini tidak menetap lama. Berangsur-angsur jarum yang tertancap diotakku ini hilang.
            “Jungshin-ah...”
            “Gwencana... gwencana...” Jawabku walaupun masih terengah-engah.
            “Wae? Apa perlu kupanggilkan Dokter Han?”
            “Andwee... migranku kambuh.. sekarang sudah tidak apa-apa.” Jawabku bohong.
            “Tapi wajahmu terlihat pucat. Sebaiknya kau pulang sekarang. Aku akan menggantikanmu sementara.”
            “Ne... gomawoe Sooyoung-ah... Aku sangat berhutang budi padamu.”

            Aku menyusuri lorong Rumah Sakit menuju pintu keluar. Tiba-tiba hatiku berdegub kencang saat dari belokan diujung lorong, muncul rombongan orang yang sedang mendorong ranjang pasien. Wajah mereka terlihat diam. Jantungku semakin berdegub saat mereka melewatiku. Aku bisa melihat ada seseorang terbujur kaku diatas ranjang itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup kain putih. Aku menengok untuk melihat kemana mereka akan pergi. Sesuai dugaanku, mereka terus berjalan ke arah kamar jenazah.
            “Ya Tuhan.. apa arti dari semua ini? Apa kau akan mengembalikanku sekarang? Apa waktunya akan tiba?” Ujarku masih menatap lurus ke ujung lorong tempat rombongan tadi menghilang.

Leeteuk POV
            “Hyung... ada acara malam ini? Ayo kita makan malam bersama sebelum kita siaran.” Ajak Eunhyuk setelah selesai syuting Super Junior Foresight.
            “Ahhh... mianhae... aku ada acara Hyukkie... kapan-kapan saja.”
            “Mwo? Tumben kau ada acara Hyung?’
            “Aku harus menebus sebuah janji.”
            “Janji? Ya~ Hyung... apa kau akan berkencan?” Eunhyuk menyenggol lenganku.
            “Begitulah...” Aku mengedipkan sebelah mataku dan tertawa.
            “Huwaaaaa benar kata Donghae... pasti kau mulai berkencan dengan suster itu.. Chukae Hyung!!!”
            “Hahahaha... sudahlah jangan menggodaku terus!!!”

            Aku memang berencana mengajak Jungshin jalan-jalan hari ini sebelum aku siaran radio. Aku senang mendengar suaranya yang riang mengiyakan ajakanku saat aku menelponnya tadi.

Author POV
            “Annyeong... Selamat datang di Toko Roti Rainbow... Ahhhh Leeteuk Oppa... ternyata kau yang datang.” Ujar seorang yeoja yang terlihat senang menyambut pelanggannya.
            “Hahaha sudah lama aku tidak kesini Yuna-ya... aku rindu merasakan roti buatanmu.”
            “Ne.. rotiku memang membuat orang ketagihan oppa hehehe.. Omo.. siapa yeoja itu?” Yuna memiringkan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas yeoja yang sedari tadi digandeng oleh Leeteuk.
            “Lee Jungshin imnida...” Ujar yeoja itu memperkenalkan diri.
            “Ne... Choi Yuna imnida... Aigooo apa kalian ini pacaran?” Yuna tersenyum genit.
            “Andweeee...” jawab Leeteuk dan Jungshin bersamaan.
            “Ya~~ tidak usah gugup begitu... mana ada seorang yeoja dan namja bergandengan tangan tanpa ada hubungan apapun.” Yuna masih menggoda kedua pelanggannya itu. Sontak Leeteuk dan Jungshin melepaskan tangan mereka satu sama lain.
            “Aishhhh... berhenti menggoda kami berdua Yuna-ya, atau akan kulaporkan kau pada Kyuhyun...”
            “Ya~~ memangnya aku takut pada evil itu oppa? Laporkan saja padanya, lagipula sudah lama dia tidak kesini. Huff... itu membuatku kesal!”
            “Hahahaha... sudahlah... jebal kami ingin merasakan roti terbaik dari The Rainbow.”
            “Ahh ne.. ne.. silahkan kalian duduk...”

            “Ini dia, roti kebanggaan The Rainbow. Jangan salahkan kami bila anda ketagihan dan tidak bisa berhenti memakannya hahahaha...” Ujar Yuna meletakkan sekeranjang roti.
            “Omo... banyak sekali!!!” Seru Jungshin
            “Ne... karena semua roti disini adalah yang terbaik, jadi aku menawarkan semua roti yang ada.”
            “Aigoooo.... mana bisa kami menghabiskan ini semua!!!”
            “Ya oppa... jangan banyak protes. Jebal, makanlah... Aku harus pergi dulu memeriksa pangganganku... selamat menikmati...” Yuna meninggalkan namja yang yeoja yang masih menatap tak percaya sekeranjang roti yang ada dihadapan mereka.
            “Omo... Yuna tidak berbohong... jeongmal mashita!!!” Seru Jungshin saat memasukkan sepotong roti keju kedalam mulutnya.
            “Ne... aku tahu kau pasti akan suka. Makanya aku membawamu ke sini. Hahaha...” Leeteuk tertawa melihat Jungshin yang terlihat lahap menghabiskan roti yang ada dikedua tangannya.
            “Aishhhh... aku tidak bisa berhenti makan ini... Leeteuk-shii cobalah...” Jungshin menyuapkan sepotong roti dengan cappucino cream, dan itu membuat sebagian creamnya meluap keluar dan mengotori pipi Leeteuk.
            “Omo... mianhae... kau jadi belepotan hahahaha...”
            “Ya~~ lihatlah kau terlihat senang sekali... Awas kau!!!” Leeteuk mencolek cream dipipinya dan mengoleskannya dipipi Jungshin.
            “Leeteuk-shii!!!”
            Yuna menahan tawanya melihat tingkah kedua namja dan yeoja seperti anak kecil itu.
            “Aishhh... bagaimana mereka bisa bilang bahwa mereka tidak pacaran!” Yuna berkata pada dirinya sendiri.
            “Lihatlah... kau membuat mukaku penuh dengan cream Leeteuk-shii.”
            “Ya~~ kau terlihat cantik dengan cream itu Jungshin-shii... Neomu kyeoppta...”
            “Ya~~~ kau menggodaku lagi!!!” Jungshin menjitak kepala Leeteuk.
            “Hahahaha...”
            “Aku akan ke kamar mandi dulu membereskan ini semua.”
            “Ne... dandanlah yang cantik Jungshin-shii hahahaha...”
Jungshin menggembungkan pipinya protes. Leeteuk masih tertawa melihat yeoja itu berdiri dan pergi ke arah kamar mandi.
            “Lihatlah kau memang lebih cantik dengan cream tadi.” Seru Leeteuk saat Jungshin kembali dari kamar mandi.
            “Aishhh... awas kau Leeteuk-shii!!!” Jungshin berlari kecil menuju arah Leeteuk yang tertawa terpingkal-pingkal.
            “Auuwwwww...” Tinggal 3 langkah lagi sampai di tempat Leeteuk duduk, Jungshin berhenti dan memegang kepalanya, terlihat kesakitan.
            “Jungshin-ah!!!” Leeteuk segera memegang tubuh Jungshin tepat saat tubuh itu oleng kesamping.
            Yuna segera berlari menghampiri Jungshin yang kini tergeletak dipangkuan Leeteuk. Jungshin masih merintih kesakitan memegang kepalanya.
            “Yuna-ya... jebal panggil ambulance.” Seru Leeteuk.
            “Andweeee... kumohon jangan bawa aku ke rumah sakit!!!” Pinta Jungshin lirih.
            “Jungshin-ah... tapi kau kesakitan!” Wajah Leeteuk benar-benar ketakutan.
            “Kumohon antarkan aku pulang... aku tidak apa-apa...”
            Terpaksa Leeteuk menuruti permintaan Jungshin dan dengan hati-hati memapahnya keluar toko dan membaringkan Jungshin ke jok mobilnya.
            “Oppa... berhati-hatilah...” Yuna melambaikan tangannya saat mobil BMW putih itu melaju meninggalkan halaman parkir toko Rainbow.
           
            Mobil BMW putih milik Leeteuk melaju kencang membelah jalanan di Seoul. Mobil itu baru berhenti di basement apartemen Jungshin. Namun baik penumpang, maupun pengemudi di dalam mobil itu tidak kunjung keluar.
            “Jungshin-ah?” tanya Leeteuk lirih.
Rupanya Jungshin tertidur pulas. Leeteuk tidak berani membangunkannya yeoja disampingnya itu.
“Gwencana? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau tahu, aku sangat takut melihatmu kesakitan seperti itu...” Jemari Leeteuk mengusap kening Jungshin dengan lembut dan merapikan poni Jungshin kebelakang telinga yeoja yang masih tertidur itu.
Cukup lama mobil BMW itu terdiam di basement, sedetik kemudian pengemudinya itu menyalakan mobilnya lagi dan melaju keluar dari basement menuju jalanan Seoul.

Jungshin POV
Kepalaku masih terasa berat. Tapi tidak sesakit yang tadi. Aku mencium aroma parfum. Aku membuka mataku perlahan. Ternyata aku masih berada didalam mobil. Tubuhku berselimut jaket yang mengeluarkan aroma parfum yang kuhirup tadi. Aku menengok ke jok pengemudi, tapi aku tidak menemukan namja pemilik jaket ini. Aku mengedarkan pandanganku. Aku melihat punggung Leeteuk yang kini duduk dikap mobilnya. Aku membuka pintu mobil, dan aku takjub melihat view didepanku. Cahaya lampu tertempel indah berwarna-warni di langit malam. Pantulannya juga terpancar lembut di atas aliran air yang terbentang luas.
“Kau sudah bangun Jungshin-ah?” Tanya Leeteuk yang menyadari kehadiranku.
“Sungai Han dimalam hari memang indah...” lanjutnya saat melihatku masih terbengong menikmati hamparan sungai didepanku.
“Ne... indah sekali... tapi kenapa kau membawaku kemari?”
“Kau tertidur pulas tadi, aku tidak berani membangunkanmu, jadi dari pada menunggu dibasement yang sepi itu, lebih baik aku membawamu kesini. Apa kau tidak suka?”
“Andweeee... manii joahae... Jeongmal Kamsahamnida Leeteuk-shii...”
“Ya~~ berhentilah memanggilku dengan formal.. Kau bisa memanggilku Oppa...” Leeteuk tersenyum dan berjalan mendekatiku.
“Apa tidak apa-apa O-P-P-A???” Leeteuk tertawa melihatku mengeja kata oppa.
“Ne... itu lebih enak didengar karena kita sudah dekat sekarang. Benarkan?” Leeteuk tersenyum lagi memiringkan kepalanya hinggal aku bisa dengan jelas melihat lesung pipinya.
“Ah ya ini jaketmu oppa... gomawoe...” Aku berusaha mengalihkan wajahku sebelum dia bisa melihat semu merah dipipiku dan menyerahkan jaket baseballnya.
Leeteuk meraih jaketnya dan memakainya, tapi bukan dipakai sendiri, tapi dia berjalan ke belakangku dan memakaikan jaket baseballnya itu ke tubuhku, memelukku erat.
“Oppa...” Tentu saja aku kaget dipeluk namja tampan itu dari belakang.
“Berjanjilah kau tidak akan kesakitan seperti tadi...” Ujar Leeteuk lembut tepat ditelingaku.
“Oppa...”
“Kau tahu? Rasanya aku ingin mati melihatmu merintih kesakitan.”
“Jinjja?”
“Ne... aku tidak mau melihat susterku sakit. Bukankah kau harus merawatku? Jadi kau tidak boleh sakit.. arraseo???” Leeteuk membenamkan wajahnya ke pundakku.
“Andwee... Aku tidak bisa lagi menjadi sustermu oppa... Mianhae...” Aku melepaskan kedua tangan Leeteuk yang masih memelukku.
“Mwo? Wae?” Leeteuk menarik lenganku hingga kini aku berbalik menghadapnya. Rasanya jarum yang tadi menancap di otakku kini berpindah menancap dihatiku saat aku melihat wajah malaikatnya berubah, matanya menatapku tajam, alisnya kembali bertaut.
“Mianhae... aku tidak bisa selamanya menjadi sustermu oppa...”
“Wae!!! Jelaskan padaku!!! Apa kau akan pergi!!!” Suara Leeteuk yang biasanya lembut kini mulai meninggi.
“Ne... aku akan pergi... Aku tidak bisa bersamamu oppa... jeongmal mianhae...” Suaraku bergetar menahan agar air mataku tidak jatuh.
“Eodiga??? Aku akan pergi bersamamu!” Leeteuk meraih tanganku dengan erat.
“Oppa...”
“Jungshin-ah... jebal katakan!”
“Kau tidak bisa pergi bersamaku oppa... kau tidak bisa... kau harus tinggal disini.” Aku menangis... kali ini hatiku benar-benar sakit. Leeteuk menarikku dalam pelukannya.
“Wae? Apa kau akan pergi jauh? Apa kau akan ke luar negeri?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Jebal... katakan Jungshin-ah..” Leeteuk mempererat pelukannya.
Aku menggelengkan kepalaku lagi. Tentu saja aku tidak bisa bilang bahwa aku akan pergi, kembali ke kehidupanku, kehidupanku tanpa malaikat yang sekarang memelukku. Entah dari mana datangnya firasat ini, tapi aku tahu sebentar lagi aku akan kembali, kembali tergeletak diranjang operasiku, kembali merasakan jarum-jarum yang disuntikkan padaku, kembali melihat dan mendengar tangisan orang-orang yang kucintai.
“Aku akan mencarimu Jungshin-ah... Aku akan mencari dan menemukanmu, dimanapun kau berada... Aku berjanji...”
“Oppa... jeongmal mianhae...” Aku membalas pelukannya dan membenamkan wajahku kedalam pelukannya yang terasa hangat ditengah hempusan angin dipinggir Sungai Han.
“Tuhan... jika benar waktuku sebentar lagi, aku mohon jangan sakiti namja ini... Namja yang telah membuatku bahagia dalam kehidupan yang kau berikan lagi.. Kumohon... Aku...Aku mencintainya... Jeongmal Saranghae oppa...” Ujarku dalam hati. 


To be continue alias bersambung...
Ahhh ya ini auhtor sertakan suasana Sungai Han di malam hari..
Huhuhu Oppa bawalah aku kesitu kapan-kapan...




Oppa... jangan lupa istirahat... kasian bgt tu pasti gy capek beud.. hiksss