Thursday, March 31, 2011

Just You My Lovely Big Head (Part 4)


Akhirnya story bout YeRi Couple sudah mencapai seri ke 4...
Author rada-rada gimanaaa gitu pas bikin ni cerita...
Sarannya pas baca backsoundnya yang mellow-mellow gethoo...
Baiklah tak usah banyak cincong, mari kita simak perjalanan pasangan aneh ini....
Oh iya... comment yang membangun sangat diharapkan...
Gomawoe... terima kasih... kamsahamnida... xie xie...




Yesung POV
Di lokasi syuting,
“Yesung-shii... ini scriptmu. Tolong segera kau baca. Kita hanya punya waktu seperempat jam sebelum mulai syuting.” Manager Hyung menyerahkan lembaran kertas padaku.
“Arraseo.. hyung... kamsahamnida.”
“Tunggu sebentar... Rambutmu terlihat berantakan... mana Seungri-shii ? suruh dia menata rambutmu itu.” lanjut Manager hyung.
“Mwo? Jinjjayo?” Buru-buru aku mencari kaca untuk melihat rambutku.
“Aishhhh... ini pasti gara-gara kipas angin besar itu. Rambutku jadi berantakan kemana-kemana.” Umpatku dalam hati. Lagipula kemana Seungri... dari tadi aku tidak melihatnya.
“Ya~~ Donghae-ya... apa kau melihat Seungri?” tanyaku pada Donghae.
“Nugu? Seungri... mollayo..” jawab Donghae
“Tadi aku melihatnya pergi keluar. Tadi aku mendengar Gyuri Nonna menyuruhnya mengambil peralatan di basement.” Sambung Sungmin
“Aigooo... aku harus menata rambutku sekarang.”
“Lebih baik kau susul dia Hyung... sebentar lagi syuting akan segera mulai.” Saran Sungmin.
“Sungguh menyusahkan.. Baiklah aku akan menyusulnya.”
Terpaksa aku harus mencari yeoja itu. Rambutku memang sulit sekali untuk di tata, hanya Seungri yang bisa menatanya dalam waktu yang cepat.
“Aishhh... kenapa lift ini harus macet disaat yang tidak tepat! Terpaksa aku harus turun lewat tangga.
Aku melihat pintu di ujung lorong. “Pasti ada tangga disitu..” pikirku.
Aku membuka pintu itu, sebelum aku berhasil membuka pintu sepenuhnya, aku mendengar suara cempreng dari seorang yeoja.
“Akhirnya tinggal selangkah lagi” ujarnya
Aku tidak bisa melihat wajah yeoja itu karena tertutup tumpukan box yang sedang dibawanya. Tapi aku tahu pasti siapa dia...
“Aigooo... dasar bodoh... membawa barang sebanyak itu menaiki tangga... bagaimana kalau jatuh terpeleset.” Ujarku dalam hati.
Tapi kelihatannya ucapanku itu tidak hanya menjadi sekedar ucapan...
“Brukkkk”
Aku melihat tubuh yeoja itu oleng ke belakang...
Box-box yang ada ditangannya terlempar ke depan...
Aku berusaha meraih tangannya, namun terlambat...
Tubuh kecilnya itu jatuh dan berguling kebawah...
Tubuhnya berkali-kali dihantam satu persatu oleh anak tangga...
Aku mendengar bunyi “Krekkk”...
Tubuhnya kini tergeletak di anak tangga terakhir...
Darah mengalir dari pelipisnya...
Posisi kakinya aneh... seperti kayu yang dipatahkan...
Aku panik... aku bingung...
“SEUNGRI-YAAA..... SEUNGRI-YAAAA....” berkali –kali aku memanggil namanya. Tapi yeoja itu tetap diam tak bergerak.
Sesaat matanya terbuka...
“Oppa....” ucapnya lirih
“Seungri-ya... bertahanlah.” Aku memegang kepalanya. Aku mengusap pelipisnya, berharap darahnya akan berhenti mengalir. Rambutnya yang panjang bergelombang itu kini ternoda oleh darah merah.
Aku mengangkat tubuhnya perlahan...
Aku takut aku mendengar bunyi patah dari tulangnya lagi...
Aku memapahnya...
“Kumohon bertahanlah...” Aku berharap yeoja itu mendengarnya.

Author POV
“Aigoooo... kemana Yesung Hyung... lama sekali dia menyusul Seungri.” Ujar Sungmin pada Donghae.
Tak lama pertanyaan Sungmin terjawab. Yesung muncul dari arah depan. Tapi dia tidak datang sendirian... tangannya terlihat membawa seseorang. Tangannya pun terlihat merah...
“TOLONG PANGGIL AMBULANCE!!!!” Yesung berteriak, membuat semua orang yang ada di lokasi terhenyak.
“Hyung apa yang terjadi???” Tanya Sungmin panik.
“Kumohon cepat panggil Ambulance!!!” Seru Yesung tanpa memperdulikan Sungmin. Suaranya bergetar. Tangannya masih erat memegang tubuh Seungri yang kini diam tak bergerak.

Yesung POV
            Aku hanya bisa berdiri diam dilorong Rumah Sakit. Aku hanya bisa melihat orang-orang di depanku itu terisak. Otakku seperti kaset rusak. Otakku hanya bisa merewind kejadian di tangga tadi dan berhenti tepat saat tubuh Seungri berguling-guling.
“Aishhhh.... seandainya aku lebih cepat datang! Pasti aku bisa memegang tangannya!” Aku terus menerus mengulang pernyataan itu.
“Hyung... gwencanayo?” tanya Donghae
“Ne... gwencana.”
“Sebaiknya kau duduk. Kau terlihat sangat berantakan Hyung.”
“Andwee... duduk membuatku semakin resah. Aigooo... kenapa dokter itu tidak keluar-keluar!”
“Tenanglah sedikit hyung... tunggulah sebentar lagi.”

Beberapa saat kemudian seseorang berbaju putih keluar dari ruang ICU...
“Bagaimana keadaan Seungri dokter?” tanya Shinhae panik
“Dia sudah melewati masa kritis. Syukurlah pendarahannya bisa dihentikan. Sungguh keajaiban dia tidak mengalami gegar otak...” Jawab Dokter itu.
“Benarkah??? Omo... syukurlah. Apa dia sudah siuman dokter? Apa kami bisa menemuinya sekarang?” tanya Shinhae beruntun.
“Belum... dia belum sadar. Kelihatannya dia masih syok... Kalian bisa melihatnya saat sudah dipindahkan ke kamar rawat inap. Tunggulah sebentar.”
Aku terduduk lemas. Akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega. Untunglah Seungri masih hidup, aku sangat panik melihat darah yang mengucur tadi.. Ku pikir... kupikir aku tidak bisa lagi mendengar suara cemprengnya itu...

Esoknya...
Seungri POV
Aku mendengar suara-suara. Suara itu terus memanggil namaku. Saat aku membuka mata, aku bisa melihat yeoja yang berkali-kali menggoyangkan badanku perlahan...
“Seungri-ya... Seungri-ya... apa kau bisa mendengarku?” ujar yeoja itu.
“Shinhae-ya... bisa-bisa gendang telingaku pecah... jangan berteriak ditelingaku.”
“Omo... Omo.... syukurlah akhirnya kau siuman.” Shinhae melihatku dengan tatapan penuh syukur. Matanya merah.
“Apa kau menangis Shinhae-ya? Omo... baru kali ini aku melihatmu seperti itu hehehehe...” Aku tertawa kecil.
“Ya~~ Babo... tentu saja aku menangis melihat chinguku tergeletak diam dan bersimbah darah kemarin!!!”
“Mwo??? Apa yang terjadi?” tanyaku heran
“Apa kau tidak ingat Seungri-ya? Kau jatuh dari tangga di lokasi syuting kemarin. Untunglah Yesung Oppa menemukanmu dan segara membawamu kesini.”
“Yesung Oppa??? Jinjjayo?” Aku kaget mendengar nama itu.
“Ne... dia terlihat sangat kacau kemarin. Dia seperti orang gila. Dia menemanimu semalaman menunggumu siuman.” Lanjut Shinhae.
“Dia melakukannya? Jinjja? Apa kau tidak bohong? Dimana dia sekarang?” Aku menengok kanan-kiri mencari sosok namja berkepala besar itu.
“Untung apa aku berbohong... Dia sekarang sedang keluar bersama Donghae Oppa.”
“Omo... benarkah dia sangat mengkhawatirkanku Shinhae-ya?” tanyaku lagi tak percaya.
“Ne... sampai-sampai dia tidak ikut syuting kemarin. Ya~~ kenapa wajahmu seperti itu? Kau ini hampir mati kau tahu! Masih saja kau memikirkannya.”
Rasanya aku bahagia mendengar cerita Shinhae. Perban yang sekarang melingkar di kepalaku rasanya hanya seperti hiasan. Aku merasa baik-baik saja, sebelum...
“ARRRRGGGGHHHHH.....” Aku menjerit kesakitan saat aku berusaha menggerakkan kaki kananku.

Yesung POV
“Hyung... sebaiknya kau kembli ke dorm untuk beristirahat. Semalaman kau tidak tidur. Ada Shinhae yang menjaga Seungri.” Kata Donghae saat kami berdua minum kopi di sebuah cafe dekat Rumah sakit tempat Seungri dirawat.
“Ani... Gwencana... sudah biasa aku tidak tidur. Ini tidak seberapa.” Jawabku sambil meneguk kopi pahit yang ada di meja.
“Ahh... kau ini Hyung... tapi syukurlah keadaan Seungri tidak begitu parah. Aku kaget sekali kemarin saat melihatmu menggendong Seungri yang berlumuran darah.”
“Hmmm...” ujarku singkat. Mataku masih tertuju ke samping, ke Gedung Rumah Sakit.
“Untunglah waktu itu kau menyusulnya Hyung...ahh ya, Sungmin hyung bercerita kalau sejak awal Seungri terlihat sangat lelah. Kasihan Seungri, harus mengangkut barang sebanyak itu menaiki tangga.”
“Ahhhh... aku lupa... Shinhae juga cerita padaku kalau Seungri berlatih menari semalaman. Mungkin itu yang menyebabkan dia kelelahan.” Lanjut Donghae.
“Mwo??? menari??? Dia bisa menari?” Sekarang mataku beralih pada dongsaengku itu.
“Ne... dia itu juga seorang penari hyung. Dia punya sebuah sanggar tari.”
“Lalu... mengapa sekarang dia menjadi penata rias?”
Donghae tersedak saat mendengar pertanyaanku itu.
“Ahhh.. itu... itu... karena dirimu Hyung” Ucapnya hati-hati
“Mwo? Aku??? Wae?” Aku sedikit terkejut mendengarnya.
“Dia berusaha agar bisa dekat denganmu Hyung... Aku berniat membantu, jadi aku menyarankan dia untuk menjadi penata rias. Aigoo... kalau saja aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan melakukannya.”
Seketika itu juga darahku seperti mengalir kencang, seakan-akan mereka sekarang berkumpul menjadi satu ke dalam kepalaku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan bergegas kembali ke Rumah Sakit.
“Hyung... kau mau kemana? Hyung...” Panggilan Donghae tak menghentikanku.
“Aishhhh... kenapa denganmu Seungri-ya!!! Kau ini memang yeoja yang aneh!!! Apa yang kau harapkan dari diriku ini!” Umpatku dalam hati
Aku mempercepat langkahku menuju kamar 103. Sebelum aku meraih gagang pintu, aku mendengar jeritan dari dalam.
“ARRRRGGGGHHHHH.....”
“Ada apa dengan kakiku? Apa yang terjadi???” Aku melihat Seungri menangis histeris saat melihat kaki kanannya diperban. Sekarang aliran darahku rasanya telah menembus atas kepalaku. Hatiku berdegub kencang melihat yeoja yang selalu tersenyum ceria itu kini menangis sejadi-jadinya.
“Tenanglah Seungri-ya... Kau baru saja siuman... tenangkan dirimu!!!” Seru Shinhae berusaha menenangkan.
“Kenapa dengan kakiku??? Shinhae-ya ada apa dengan kakiku??? Mengapa begitu sakit!!!” Seungri terisak kencang.
“Seungri-ya... tenangkan dirimu dulu.” Sekarang Shinhae memeluk Seungri yang bergetar hebat.
“Kakimu patah saat kau jatuh kemarin Seungri-ya...” ucap Shinhae lirih
“Patah? Jadi... jadi... maksudmu aku tidak bisa menari lagi? Jadi maksudmu aku... aku..” Seungri tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
“Apa yang harus kukatakan pada orang tuaku Shinhae-ya... mereka pasti akan menutup sanggarku dan... dan...” Seungri tak mengeluarkan suara lagi. Kepalanya tertunduk. Tapi aku tahu dia masih terisak...
Aku berbalik ke luar kamar. Aku bersandar pada tembok. Badanku lemas, bukan karena letih, aku hanya tidak tahan melihat semua ini. Semua salahku... Jika saja Seungri tidak mengejarku, tentu dia tidak akan seperti ini...
“Aishhhh... Seungri-ya... mianhae...”

Author POV
Seminggu sudah Seungri berada di Rumah Sakit. Keadaan fisiknya mulai membaik. Tapi keadaan psikisnya makin lama makin memburuk. Seungri masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakinya patah. Seminggu penuh dia hanya terbaring diam. Sesekali dia duduk di kasurnya menatap langit di luar jendela kamarnya, tapi matanya terlihat kosong.
“Seungri-ya... kau harus makan dan minum obat.” Ujar Shinhae yang setiap hari menemani chingunya itu.
“Apa obat itu bisa menyembuhkan kakiku dengan cepat?” tanya Seungri datar.
“Ya~~ kumohon hentikan... kau tahu itu tidak mungkin. Jebal.. makanlah bubur ini. Kau harus kuat Seungri-ya... masih banyak yang bisa kau lakukan.”
“Banyak? Apa yang bisa aku lakukan selain menari. Hidupku sudah berakhir Shinhae-ya... Kompetisi yang aku idam-idamkan selama ini pasti sedang berlangsung meriah, dan aku hanya bisa terbaring di sini. Jinjja... menyedihkan sekali aku ini.” Air mata Seungri kini kembali menetes.
“Seungri-ya...” Shinhae kehabisan kata-kata. Dia tak bisa menyangkalnya.
“Drrrrttttt... Drrttttt...” Hp Seungri bergetar.
“Yeobboseo...” jawab Seungri
“Ah... omma? Mwo? kau akan kesini?” Seungri sedikit kaget mendengar perkataan di telponnya.
“Ne... ne... hati-hati di jalan.” Ujar Seungri mengakhiri percakapannya.
“Omo... Shinhae-ya... apa yang harus kulakukan? Omma dan Appaku akan ke sini.” Seungri terlihat bingung.
“Jinjja?”
“Aku... aku belum siap menemui mereka... mereka pasti akan membicarakan hal itu lagi....”

Satu jam kemudian,
“Lihatlah dirimu Seungri-ya... Apa yang sebenarnya terjadi. Maafkan omma baru bisa menjengukmu sekarang.”
“Gwencana omma... aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih kalian mau datang di tengah kesibukan kalian.”
“Aigoooo... tentu saja kami akan menjenguk putri kamu satu-satunya ini.”
Terlihat ahjumma dan ahjushi yang tak lain adalah omma dan appa Seungri saling berbincang.Seungri terlihat senang, tapi ada kekhawatiran yang terpancar dari wajahnya yang masih pucat. Dan tanpa di tunggupun kekhawatirannya itu datang...
“Mwo? kalian ingin aku menutup sanggar?” Ujar Seungri kaget
“Ne... untuk apa kau masih mempertahankan sanggar itu. Lihatlah kakimu sekarang patah. Kau tidak akan bisa menari lagi Seungri-ya.. Lebih baik kau meneruskan usaha appa...” Kata Appa Seungri
“Aniya... kakiku akan sembuh. Kumohon jangan lakukan ini.”
“Walaupun kakimu sembuh, kau tidak akan bisa menari seperti dulu. Tidak akan ada orang yang mau belajar di sanggarmu. Mana ada orang yang mau memiliki guru tari yang tidak bisa menari dengan sempurna.”
“Omma!!! Aku... aku pasti masih bisa menari seperti dulu. Aku... aku.. akan membuktikanya dalam kompetisi bulan depan. Kumohon berilah aku kesempatan...” Seungri kini tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Dia menarik tangan ommanya sambil memohon, berharap orang yang selama ini mengandungnya itu mau menerima permohonannya.
“Aigooo... dari dulu kau tak berubah. Omma heran bagaimana kau bisa sekeras kepala begini!!! Bagaimana omma bisa percaya padamu lagi? Siapa yang mau menjamin kau bisa menari dan memenangkan kompetisi konyol itu?”
Tiba-tiba pintu kamar 103 terbuka. Seorang namja berdiri di sana. Wajahnya terlihat tegang. Matanya menatap Seungri tajam, tatapan elang yang tidak akan pernah dilupakan oleh Seungri.
“Aku yang akan menjaminnya!!!”

To be continue alias bersambung


Just You My Lovely Big Head (Part 3)


Wuihhh... karena Author tidak bisa tidur, dari pada tak ada kerjaan, akhirnya author iseng-iseng bikin part 3... So... jeng..jeng... Part 3 dari YeRi Couple berhasil di rilis #prokprokprok
Semoga PitaPitaloka tidak kecewa dengan FF yang didedikasikan untuk dirinya hohoho...
So silahkan menikmati...
Dont forget jg comment untuk kritik dan saran, biar Author bs bikin FF yang lebih bermutu...
Gomaweoooo chingu.... *kiss n hug*


Seungri POV
“Omo.. ini hari pertamaku menjadi penata rias Super Junior... omo... omo... aku tidak pernah bisa membayangkannya... Eotteokae...” Jantungku benar-benar berdetak kencang... telapak tanganku berkeringat. Bahkan aku tidak bisa tidur semalaman...
“Seungri-shii... apa kau siap?” tanya Donghae
“Ahhh... Oppa.. Ne.. Ne.. aku siap.”
“Gurae... sebaiknya kau cuci muka... lihatlah... wajahmu terlihat sangat gugup. Sebentar lagi Yesung hyung akan datang.”
“Mwo? Jinjja?” Aku semakin bingung... pasti wajahku sekarang sangat berminyak.. Omo.. harusnya aku memakai masker tadi malam.
Belum sempat aku pergi ke kamar mandi, member Super Junior yang lain sudah berdatangan ke ruang make up untuk pemotretan sebuah majalah.
“Aigooo... siapa yeoja manis ini? Apa dia penata rias yang menggantikan Jandi nonna?” tanya Leader Super Junior, Leeteuk
“Ne... Lee Seungri-imnida... mohon bantunannya.” Jawabku masih sedikit gugup. Aigooo... bertahun-tahun aku menjadi ELF, baru kali ini aku benar-benar menyadari jika member Super Junior ternyata memang tampan.
Semua member Super Junior terlihat ramah menyambutku, tapi aku belum melihat sosok namja yang membuatku harus melakukan ini semua..

Author POV
Beberapa menit kemudian,
            “Ryeowook-shii... dimana Yesung sekarang? Bukankah tadi dia bersama denganmu?” tanya Leeteuk.
“Yesung hyung? Ahh... katanya dia harus mengurus sesuatu... Mungkin sebentar lagi dia da...” Belum sempat Ryeowook menyelesaikan kalimatnya, namja yang sedang mereka bicarakan datang dengan tergopoh-gopoh.
“Mianhae aku terlambat... aku lupa memberi makan ddangkoma. Aku tidak tega meninggalkannya dalam keadaan lapar.” Kata Yesung dengan polosnya.
Semua member hanya bisa diam dan menatap Yesung dengan tatapan tak percaya. Namun beberapa saat kemudian semua mata beralih pada seorang yeoja yang tertawa terpingkal-pingkal.
“HAHAHAHAHAHAHAHA...OMO....” Seungri masih tertawa sambil memegang perutnya, tak sadar semua orang di ruangan itu menatap dirinya.
“Seungri-shii apa itu begitu lucu bagimu?” tanya Donghae
“Hahaha.. ahhh... mianhae..” ujar Seungri sadar, tapi tawanya belum sepenuhnya berhenti.
“Ekspresi Yesung-shii terlihat lucu.” Lanjut Seungri tanpa rasa bersalah.
“Mwo??? Lucu???” tanya Yesung
“Hahaha... gurae... wajahmu memang aneh Yesung hyung.” Sambung Sungmin ikut tertawa.
“Mwo??? Aigooo... teganya kau berkata begitu Sungmin-ah.”
“Lagi pula siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu?” lanjut Yesung yang sekarang menatap Seungri.
“Aigooo... Yesung Hyung... kau ini memang pikun. Dia Seungri, teman Shinhae yang waktu itu... Kau bertemu dengannya di konser.” Jawab Donghae
“Konser??? Ahhh... ne.. ne... aku ingat. Lalu untuk apa dia di sini? Aigoo... jangan-jangan kau mengikutiku... bukankah kau adalah fansku?”
“Omo... Omo... percaya diri sekali dirimu Hyung... Dia pengganti Jandi nonna.. lagi pula jika dia ke sini untuk menemuimu, dia sudah histeris begitu melihatmu datang tadi.” Ujar Sungmin
“Kau benar Sungmin Oppa... hatiku menjerit saat melihatnya datang tadi... aku hampir tidak kuat untuk menahan jeritanku.” Ujar Seungri dalam hati.
“Aissshhhh... baiklah... sebaiknya kau cepat bersiap-siap Yesung-ah. Sebentar lagi kita akan mulai. Seungri-shii... tolong kau rias Yesung.” Seru Manager Hyung.
“Mwo??? Aku???” tanya Seungri gugup
“Gurae... hanya tinggal kau yang kosong. Jebal... rias Yesung-shii.” Jawab Manager Hyung.
“Eottokae... tidak kusangka secepat ini aku berdekatan dengan Yesung Oppa. Omo.. aku bisa menyentuh wajahnya.. Omo... Omo... Ya Tuhan tolong tahan jantungku ini agar tidak lepas.” Seungri berkata dalam hati. Tangannya bergetar saat menyapukan foundation ke wajah Yesung yang terlihat tanpa ekspresi itu. Donghae tersenyum melihat rencananya mulai ada di jalan yang benar.


Sudah sekitar 2 minggu Seungri disibukkan oleh kegiatannya sebagai pelatih tari di sanggar miliknya, dan juga kegiatannya sebagai penata rias bagi Super Junior. Seungri tidak merasakan itu menjadi beban, karena intensitasnya bertemu Namja yang dia idolakan selama ini juga semakin banyak.
“Oppa... aku membuatkan nasi goreng beijing... ku mohon makanlah... “ Ujar Seungri menyerahkan kotak bekal kepada Yesung di tengah break acara Super Junior Foresight.
“Mwo??? kau yang membuatnya?”
“Ne... tentu saja. Aku harus bangun pagi di pagi buta untuk membuatkannya khusus untukmu.” Seungri menggembungkan pipinya yang chubby...
“Huwaaah... itu salahmu sendiri... aku tidak pernah memintanya.” Ujar Yesung datar.
“Aishhhhh... Ya~~ oppa... kenapa kau tidak mau memakannya? Bukankah kau paling suka nasi goreng beijing?”
“Aku takut kau menambahkan sesuatu di dalamnya.”
“Mwo??? Aku ini fans beratmu. Mana mungkin aku memasukkan racun ke dalamnya.”
“Aigoooo... apa itu buatanmu?” tanya Sungmin tiba-tiba duduk di sebelah Yesung.
“Ne.. oppa... tapi Yesung oppa tidak mau memakannya.” Jawab Seungri dengan mimik sedih.
“Benar kau tidak mau hyung??? Baiklah kalau begitu buatku saja. Kelihatannya enak.”Sungmin menjulurkan tangannya hendak mengambil kotak bekal Seungri, namun terhenti saat Yesung memukul tangannya.
“Andweee... kau tidak boleh memakannya. Dia ini fans beratku, jadi ini khusus untukku.” Ujar Yesung sambil mengambil kotak bekalnya itu.
“Omo... kau ini ini memang aneh Hyung...” Sungmin menggelengkan kepala melihat Hyungnya yang selalu tidak bisa ditebak.
Seungri tersenyum puas, akhirnya Yesung mau menerima pemberiannya.

Yesung POV
“Aigooo... yeoja ini setiap hari terus saja muncul di hadapanku. Apa dia ini seorang maniak atau apa? Lama-lama dia membuatku gila.” Kataku dalam hati saat melihat Seungri. Setiap hari dia selalu ada di sekitarku, bertanya ini itu, melakukan ini itu...
“Oppa... lihatlah aku membelikan topi untukmu. Tapi... aku tidak tahu ukuran kepalamu. Jadi aku pilihkan yang paling besar.”
“Oppa... apa kau sudah makan? Apa perlu aku buatkan makanan?”
“Oppa... bagaimana suaramu bisa indah seperti itu? jangan-jangan kau sudah mulai bernyanyi saat masih menjadi janin?”
“Oppa... kenapa kau tidak mencoba menjadi seorang aktor? Ekspresimu terlihat bagus saat menyanyi.”
“Oppa... kau tahu, aku juga memelihara kura-kura. Kapan-kapan kita pertemukan ddangkoma dengan kura-kura  milikku...”
“Oppa... Oppa... Oppa...”
“Aishhhhh... suara cemprengnya itu sekarang terngiang-ngiang di telingaku.”

“Hyung... kenapa kau melamun?” tanya Sungmin mengagetkanku.
“Ani... aniya...”
“Apa kau sedang memikirkan Seungri-shhi?”
“Mwo??? aniya... kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Dari tadi hyung memperhatikannya. Kau beruntung hyung punya fans seperti dia.”
“Beruntung??? Dia selalu mengikutiku, memberiku ini itu... Lama-lama itu membuatku gila.”
“Hahahahaha... aku akan sangat bahagia jika Sungrie yang menjadi fansku.”
“Jinjja? Apa kau tahan setiap hari diikuti olehnya?” tanyaku heran
“Ne... aku senang jika ada seseorang yang memperhatikanku.” Dongsaengku ini hanya tersenyum dan beranjak dari sampingku, dan pergi menghampiri Seungri.
Sungmin terlihat mengatakan sesuatu padanya. Tiba-tiba Seungri berbalik melihatku dan mengangkat tangannya ke atas membentuk “Saranghae”
“Aishhhh... apa yang Sungmin katakan. Lihatlah sekarang yeoja itu terlihat sangat senang...”


Author POV
Beberapa hari kemudian, di apartemen Shinhae
“Seungri-ya... kau mau berangkat?” tanya Shinhae melihat Seungri yang sedang membereskan barang-barangnya.
“Ne... hari ini Super Junior harus syuting CF.”
“Omo... Bukankah dari semalam kau berlatih menari untuk kompetisi minggu depan? Jangan-jangan kau tidak tidur semalaman?”
“Aniya... aku sempat tidur 2 jam.”
“Mwo??? 2 jam??? Aigoooo... pantas saja lingkaran matamu hitam sekali... Ya~~~ sebaiknya kau tidak usah berangkat hari ini... Kau terlihat lelah...” ujar Shinhae khawatir.
“Aniyaaa... aku tidak apa-apa... Baiklah aku berangkat dulu... annyeonghigeseo...” Seungri melambaikan tangannya pada Shinhae tanpa memperdulikan wajahnya yang terlihat khawatir.


Seungri POV
Lokasi Syuting,
“Seungri-ya... kau terlihat berantakan hari ini. Apa kau tidak tidur semalam?” tanya Sungmin oppa khawatir.
“Aniya... aku tidur...” jawabku  asal
“Arraseo... sebaiknya kau cuci mukamu itu agar terasa segar.”
“Ne... gomaweo oppa.”
Hari ini aku memang merasa lelah. Kepalaku sedikit pusing. Semalaman aku berlatih untuk kompetisi minggu depan. Tapi, aku tidak mau melepaskan kesempatanku bertemu Yesung Oppa, selagi aku bisa...
“Seungri-ya.. tolong kau ambilkan peralatan make di mobil.” Kata Gyuri unnie, seniorku.
“Ne... unnie...”
“Aishhhh... kenapa liftnya harus mati!” umpatku saat tahu lift di gedung ini macet. Terpaksa aku harus naik turun dengan tangga.
Sesampainya di mobil, aku syok melihat peralatan make up yang bertumpuk banyak.
“Omo... apa aku harus mengangkat semuanya???” tanyaku dalam hati.
Terpaksa aku menumpuk peralatan make up itu dan mengangkatnya. Aku mengumpat lagi saat harus menaiki tangga ke lantai 4. Rasanya tulang-tulangku rontok membawa barang sebanyak ini. Satu demi satu anak tangga aku lewati.
“Akhirnya tinggal selangkah lagi” ujarku lega. Tanganku sudah bergetar menahan berat box-box make up ini.
Tapi tiba-tiba aku menginjak sesuatu yang licin, keseimbanganku goyah, badanku serasa terhempas kebawah. Seingatku aku merasa badanku berguling-guling. Aku merasa kakiku berbunyi “krekk”. Pandanganku tiba-tiba menjadi gelap. Aku hanya bisa mendengar suara namja yang memanggil namaku...
“SEUNGRI-YA... SEUNGRI-YA...!!!”

To be continue alias bersambung...



Just You My Lovely Big Head (Part 2)


Baiklah setelah bersemedi setahun penuh, Author kembali merilis perjalanan YeRi couple part 2...
Sebelumnya author minta maaf karena Hae couple akan sering berlalu lalang...
Hae couple masih ingin ngeksis #plakplakplak...
Tak usah berlama-lama lagi, mari cek it dot...
Dont forget to comment hohoho... (khusus pita, commentnya jng bikin perut kram lg hahahaha)




Author POV
Neomu dahaeng iya aesseo
neorel jikyeojul geu sarami baro naraseo
eodiseo channi
Na gatchi haengbokhan nom (na)
nagatchi haengbokhan nom(neo)
na gatchi unneun geureon
choegoro haengbokhan nom

“KYAAAAAAAKKKKKKKKK.... Yesung oppa!!!!!!!!!!”
“Ya ya ya Seungri-ya... aku harus ke THT jika mendengar teriakanmu terus menerus  seperti ini!!!” Ujar Shinhae yang tiba-tiba keluar dari kamarnya setelah mendengar teriakan seorang Yeoja yang sedari tadi menatap layar TV tanpa berkedip.
“Oppa... mengapa dirimu bisa tampan seperti itu... ahhhhhh neomu kyeoptaaaaa...” teriak yeoja itu lagi tanpa menengok sedikitpun ke arah Shinhae yang sudah berkacak pinggang melihat kelakukan chingunya itu...
“Ah Shinhae-shii... kau sudah bangun rupanya??? Hey lihat lihat MV No Other Super Junior diputar di TV.. Omo suara Yesung oppa sungguh membuatku gila!!!” lanjut Seungri sambil memukul mukul bantal dipangkuannya.
“Ya~ bukankah kau sudah berkali-kali melihat MV itu... aissshhhh kau ini seperti anak remaja saja... masamu untuk mengidolakan artis sudah lewat.. ingat umurmu..babo-ya!”
“Masa bodoh dengan umur... Cintaku pada Kim Jongwoon tak kan terhalang oleh waktu... Ahhhh kapan aku bisa bertemu denganmu oppaaaaa.... “ ujar Seungri yang sekarang memeluk bantal bermotif kelinci itu sambil menempelkannya ke pipinya yang chubby.
“Ya ya ya~ hentikan khayalanmu sampai di situ saja.. Jangan-jangan kau di usir dari apartemenmu karena teriakanmu itu???”
“Andweeeee... apartemenku sedang di renovasi... Ada rayap di kamarku... Gomawoe Shinhae-ya sudah mengizinkanku untuk tinggal sementara di sini.”
“Chonmaneyo... selagi kau bisa bersikap normal, aku tak keberatan. Ahh iya.. apa kau jadi menonton Konser KRY?”
“Ne.. tentu saja... mana mungkin aku melewatkan moment untuk bisa bertemu cintaku Yesung....” Ujar Seungri yang masih menatap layar TV sambil sesekali mendendangkan bait lagunya.
“Bukankah sudah berkali-kali kau pergi ke konser Super Junior??? Apa kau tidak pernah sekalipun bertatap muka dengan Yesungmu itu?”
“Hmmm... kelihatannya bintang keberuntungan tidak sedang bersamaku... Sekalipun aku selalu menonton konser mereka, mengikuti kemana mereka pergi, aku tidak pernah bisa bertemu Yesung Oppa. Ahhh.. tapi aku pernah berhasil menyentuh ujung jarinya hehehe...”
“Aigooooo Seungri-ya.. sampai sekarang aku tidak bisa mengerti mengapa kau sangat memuja namjamu itu...”
“Hehehehe... dia adalah inspirasiku, dan ada yang harus aku kembalikan padanya.” Seungri tersenyum kecil. Shinhae hanya bisa mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti.
“Gurae.. gurae... arraseo... jadi... apa kau akan pergi sendiri ke konser itu?”
“Ne... waegurae??? Apa kau mau menemaniku?” tanya Seungri yang akhirnya berbalik menghadap Shinhae.
“Hmmm... baiklah.”
“Hajiman...penjualan tiketnya sudah di tutup. Eotteoke???”
“Aku sudah punya tiketnya.” Ujar Shinhae datar
“Mwo???? Bagaimana bisa??? Bukankah kau bukan fans Super Junior? Seungri terlihat kaget mendengar ucapan Shinhae.
“Ne.. aku bukan penggemar mereka. Aku hanya memenuhi undangan seseorang.”
“Mwo??? Nugu???” Tanya Seungri makin penasaran.
“Kau akan mengetahuinya besok. Hey lihat sekarang sudah jam 9.. bukankah kau ada kelas hari ini??? Jebal... nanti kau terlambat!!”
“Ah gurae.. aku hampir lupa.. “ segera saja Seungri bangkit dari sofa dan berlari secepat kilat kesana kesini mengambil peralatan dance dan memasukkannya secara sembarang ke dalam tas ransel coklat mudanya.
“Baiklah aku berangkat dulu Shinhae-ya... annyeonghigeseo..” Terdengar suara pintu dibanting dengan keras, tapi beberapa detik kemudian pintu itu terbuka kembali.
“Wae??? Ada yang ketinggalan?” tanya Shinhae yang heran melihat Seungri kembali lagi.
“Ne.. aku lupa mengucapkan selamat tinggal pada Oppa... Yesung Oppa.. aku pergi dulu ya.. Muachhh” ujar Seungri sambil memberikan kiss bye pada sosok namja yang sedang bernyanyi di TV. Seketika itu juga Shinhae tersedak dan memuntahkan air putihnya.
“YA~~~~ LEE SEUNGRI... bisakah kau sehari saja berubah normal !!!!!!!!!!!” Seungri hanya tertawa dan berlari kecil meninggalkan Shinhae yang sekarang mulai terbatuk batuk karena tersedak dan syokk melihat chingunya itu.


Author POV
Di lokasi konser Super Junior KRY,
“S.U.P.E.R   J.U.N.I.O.R....... KYAAAAKKKKKKK....”
            Teriakan-teriakan membahana menyelimuti Olympic Gymnastics Arena... Yeoja-yeoja terus menerus menyerukan nama-nama idola mereka yang sedang berada di tengah panggung, termasuk Seungri, yang tak henti-hentinya menyebut nama Yesung, yang sekarang sedang berdiri berselimut terangnya lampu stage menyanyikan salah satu lagu andalannya, OST sebuah Drama Serial yang booming di Korea...

oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda
i gil kkeuteseo seoseongineun na
dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba
naneun tto i gireul mutneunda

neol bogo sipdago
tto ango sipdago
jeo haneulbomyeo gidohaneun nal
niga animyeon andwae
neo eobsin nan andwae
na ireoke haru handareul tto illyeoneul

na apado joha
nae mam dachyeodo joha nan
geurae nan neo hanaman saranghanikka

“OPPAAAA..... SARANGHAMNIDA..... OPPAAAA....” teriak Seungri
Shinhae yang sedari awal konser duduk di sebelah Seungri hanya bisa tertawa melihat chingunya yang tergila-gila dengan member Super Junior yang terkenal aneh itu.
“OmO Shinhae-ya... kau dengar suaranya itu... Lama-lama aku bisa mati karena jantungku terlalu cepat berdetak setiap mendengar suara malaikat itu...” Ujar Seungri menggebu-gebu, namun tatapannya masih ke depan panggung. Shinhae juga berkali-kali berteriak, bukan karena histeris seperti yeoja-yeoja si sekelilingnya, tapi karena sedari tadi Seungri mencengkram lengan Shinhae, seakan lengannya itu bantal.
Beberapa jam kemudian, konser Super Junior KRY sukses digelar....

Seungri POV
“Shinhae-ya... mau apa kita ke backstage? Apa boleh kita kesini?” Aku bingung tiba-tiba Shinhae menarik tanganku sesaat setelah konser selesai, dan sekarang dia membawaku ke backstage.
“Aku menunggu seseorang. Dia yang mengundangku untuk menonton konser ini?” jawab Shinhae datar. Kepalnya berkali-kali menengok kanan kiri, mencari seseorang.
“Nugu? Nugu?”
Belum sempat Shinhae menjawab, aku mendengar suara seorang namja dari arah belakang...
“Shinhae-ya... ternyata kau datang juga?”
“Omo... Omo... Dia... dia... Donghae Super Junior!!!!” Berkali-kali aku mengucek mataku, memastikan bahwa namja yang sekarang memeluk Shinhae itu adalah Donghae, salah satu member Super Junior yang tadi juga ikut bernyanyi bersama Yesung Oppa... Dan kenapa Shinhae bisa mengenalnya? Bahkan memeluknya dengan erat...
“Jadi... kau yang bernama Seungri???” Tanya Donghae setelah melepaskan pelukannya dan sekarang menengok ke arahku.
“Ne... dia Lee Seungri... seperti yang telah aku ceritakan, dia fans berat Yesung oppa.” Jawab Shinhae yang tahu aku masih sedikit syok melihat Donghae.
“Ne... ne... arraseo... kebetulan Yesung oppa masih ada di dalam. Kau mau bertemu dengannya?” ujar Donghae menyunggingkan senyum khasnya.
“Mwo??? Yesung Oppa??? Disini??? Bertemu???” Otakku masih seperti puzzle yang belum di satukan. Belum sempat aku menyatukan puzzle-puzzle dalam otakku, aku merasakan aura-aura aneh, sama seperti dulu...
“Donghae-ya... apa kau tahu dimana tasku?”
Aku tahu suara itu... aku tahu suara emas itu... suaranya masih sama seperti dulu...
“Yesung hyung... jebal kemarilah... ada yang ingin bertemu denganmu.” Seru Donghae.
“Mwo??? Nugu???”
Namja yang hanya bisa kuimpikan selama ini berlahan-lahan melangkah ke arahku. Aku tidak tahu bagaimana wajahku sekarang. Mungkin wajahku sama seperti orang mati. Aku merasakan darahku terserot, meluncur ke bawah melalui jantungku yang kini berdetak tak bisa kukontrol.
“Ini Lee Seungri... kau tahu hyung, dia adalah seorang Cloud...” Donghae menarik tubuhku ke depan, sehingga sekarang jarak antara aku dan Yesung Oppa mungkin hanya sejengkal.
“Lee...lee..Seungri...im..imnida” ujarku terbata-bata memperkenalkan diri. Aku tidak berani menatap mata elangnya itu.
“Ahh.. Ne.. mannaseo pangapsumnida. Aku senang bisa bertemu dengan fansku... Kamsahamnida kau mau datang ke konser kami...” Jawab Yesung datar.
“Donghae-ya aku ingin pergi sekarang, apa kau ikut?” lanjut Yesung tanpa memperdulikanku. Aku hanya diam dan sedang berusaha menahan badanku agar tidak jatuh pingsan.
“Mwo? Sekarang? Ne.. aku ikut dengan Hyung.”
“Hmm... Shinhae-ya apa tidak apa-apa kau pulang sendiri?” lanjut Donghae.
“Aniya oppa.. chonmaneyo.. aku pulang bersama Seungri.” Jawab Shinhae
“Gurae.. baiklah kami pergi sekarang. Hmm.. Seungri-ya kumohon tolong jaga Shinhae. Gomawoe kalian mau datang menonton konser kami.”
Donghae memeluk Shinhae dan menepuk pundakku. Aku masih berdiri mematung seperti orang bodoh. Yesung Oppa hanya tersenyum kecil dan bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

“Omo... kenapa Yesung Oppa sombong sekali? Apa itu orang yang selama in kau idolakan?” tanya Shinhae saat kami sudah berada di dalam mobil.
“Aniya... mungkin dia sedang tidak mood... dia terlihat capek, dan dia tidak sombong.” Bantahku.
Tapi aku tidak bisa memungkiri perlakuan Yesung Oppa tadi. Dia terlihat berbeda dengan 6 tahun yang lalu. Tidak ada senyuman yang membuatku berdebar seperti dulu. Yang ada hanyalah senyuman yang sudah dilatih selama bertahun-tahun.
“Aissshhhhh.... kenapa aku jadi merasa sedih begini!!! Ya~~ Seungri-ya.. mungkin tadi dia tidak memperhatikanmu karena dia sedang capek.” Ujarku menenangkan diriku sendiri. Tapi ternyata itu tidak cukup, air mataku tiba-tiba saja jatuh...




Author POV
Beberapa hari kemudian, di dorm Super Junior
“Ya~~ Hyung... ada sesuatu untukmu...” Ujar Donghae sambil menyerahkan sekotak bungkusan berwarna pink pada Yesung yang sedang duduk santai.
“Mwo??? Apa ini?” tanya Yesung
“Mollayo... kelihatannya makanan. Seungri yang memberikan ini, khusus untukmu.”
“Nugu? Seungri???”
“Omo... apa kau lupa Hyung???”
“Nugu? Apa aku mengenalnya?”
“Ya~~ Hyung... Seungri itu fans beratmu... kau bertemu dengannya sehabis Konser KRY. Dia itu temannya Shinhae.” Donghae sedikit kesal melihat raut wajah Hyungnya yang tanpa ekspresi itu.
“Maksudmu gadis berambut panjang yang diam seperti patung itu?”
“Mwo? Patung? Aigooo... kau keterlaluan hyung.. dia begitu karena gugup bertemu denganmu.”
“Ne.. ne.. arraseo.. tapi saat ini aku tidak lapar. Lebih baik kau berikan ini pada Shindong.” Yesung menyerahkan bungkusan pink itu kembali pada Donghae.
“Ya~~ hyung... setidaknya kau buka dulu bungkusan ini !!!”
“Aniya... Aku harus memberi makan ddangkoma.” Jawab Yesung datar dan beranjak dari sofa, masuk ke kamarnya.
“Aishhhhh.... kasian Seungri harus mengidolakanmu Hyung... Seungri-ya.. berjuanglah.” Ujar Donghae bicara sendiri.


Author POV
Beberapa jam sebelumnya, di apartemen Shinhae,
“Omo Seungri-ya... apa yang kau lakukan pagi buta begini di dapur? Apa kau sedang memasak?” tanya Shinhae yang terbangun karena mendengar suara ribut di dapurnya...
“Ahhh.. Shinhae-sshiii... mianhae membangunkanmu... aku sedang membuat nasi goreng beijing kesukaan Yesung Oppa...” Jawab Seungri yang masih sibuk memotong sayur-sayuran.
“Mwo??? Yesung??? Aigoooo... kau masih memikirkan dia?”
“Ne... mengapa tidak???”
“Lalu.. bagaimana kau memberikan itu padanya?” tanya Shinhae curiga.
“Hehehehehe... tentu saja melalui dirimu Shinhae-ya... kau kan yeojachingunya Donghae oppa... tidak ada salahnya kau minta bantuan pacarmu itu untuk memberikan ini pada Yesung Oppa.”
“Omo... Omo... sudah kuduga. Pintar sekali kau memanfaatkan chingumu ini.”
“Shinhae-ya... kumohon...” Seungri kini menatap Shinhae dengan tatapan memelas dan dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil merengek pada ommanya.
Shinhae hanya bisa mendesah dan menuruti permintaan chingunya itu.
“Ahhh selesai... Kau pasti akan suka dengan nasi gorengku. Rasanya tidak akan kalah dengan buatan Hangeng Oppa...” Ujar Seungri saat selesai membungkus kotak makannya itu dengan kain berwarna pink.
“Semoga kau bisa mengingatku oppa...” Seungri mencium kotak makannya itu dan tersenyum puas...




Author POV
Apartemen Shinhae,
 “Jinjja??? Omo... Bagaimana Yesung Oppa bisa setega itu?” Ujar Shinhae sedikit emosi mendengar cerita Donghae tentang Yesung yang menolak makanan pemberian Seungri.
“Ne... aku juga tidak mengerti dengan Yesung Hyung... dia tidak biasanya seperti itu terhadap fans.”
“Ya Ya~~ Seungri-ya... mengapa wajahmu seperti itu?” Shinhae kaget melihat Seungri yang sedari tadi hanya duduk diam. Kini wajahnya sudah memerah, genangan air mata mulai muncul dan mulai jatuh perlahan.
“Aigooooo... lihat bibirmu itu... melengkung seperti gelombang air... Sudahlah jangan dimasukkan ke hati.” Lanjut Shinhae sambil mengusap rambut Seungri yang juga bergelombang itu.
“Gurae... Seungri-shii... Yesung hyung memang terkadang bersikap dingin, tapi sebenarnya dia baik hati... dia memang.. nggg... sedikit aneh...” Sambung Donghae berusaha menenangkan.
“Tapi.. tapi.. dia menolak masakanku.. bahkan dia tidak mau membukanya.” Isakan Seungri kini semakin keras.
“Sudahlah... tenang saja... kami akan membantumu agar bisa dekat dengannya... benarkan Oppa?” Shinhae menyenggol Donghae yang terlihat kaget.
“Ahhh.. ne... ne... aku akan membantumu.” Jawab Donghae
“Jinjja??? Tapi... bagaimana caranya???” Isakan Seungri sedikit berkurang dan kini menatap kedua orang di depannya itu dengan penuh harap.
“Nggg.... kau bisa memberinya makanan lagi... atau kau bisa memberikan surat padanya.” Ujar Shinhae sedikit bingung
“Ahhh... Seungri-shii... apa kau bisa menata rias?” tanya Donghae tiba-tiba.
“Ne... aku yang terbaik di kelas make up sewaktu SMA.. Mwo?” jawab Seungri heran.
“Hmm... kau bisa menjadi penata rias kami... Kebetulan Jan Di Nonna sedang cuti hamil, jadi kau bisa menggantikannya sementara waktu. Dan kau bisa semakin dekat dengan Yesung Hyung.”
“MWOOOOOO... !!! Penata Rias???????”


To Be Continue alias Bersambung....




Monday, March 28, 2011

Just You My Lovely Big Head (Part 1)


 Hohohoho... kembali dengan FF khusus buat my pren Pitaloka
Didedikasikan untuk kecintaannya pada The Invisible Leader "Yesung"
Maap banget sebenernya author bingung  ni FF.. sumpah deh...
Jadi mohon dimaafkan jika tak sesuai harapan...
Kritik dan saran sangat diharapkan...
Monggo...




Setiap orang mempunyai mimpi...
Sekecil apapun mimpi yang ada... punya hak untuk diwujudkan...
Tapi, mimpi benar-benar hanya akan menjadi mimpi jika hanya terkunci dalam hati...
Dan hanya orang bodoh yang melakukannya...
Dan aku, Lee Seungri, bukanlah salah satu dari orang-orang bodoh itu...

Author POV
“Anneyonghigeseyo Seungri-songsaengnim.... terima kasih atas pelajarannya hari ini...” Seru sekelompok gadis remaja dengan kompak dan sangat bersemangat.
“Ne... kalian beristirahatlah... besok kita akan mati-matian untuk berjuang... Fighting!!!!” Ujar seorang yeoja dengan tak kalah semangatnya.
Suasana terlihat sangat hidup dan aura-aura kegembiraan terpancar dalam ruangan 7 x 10 m itu. Tembok-tembok yang dibalut dengan cat biru sapphire terpantul indah dalam deretan kaca-kaca besar. Kayu-kayu mengkilap tertata rapi, berjejer-jejer menutupi lantai yang tak terlalu luas untuk ukuran kelas menari di sebuah Sanggar.
Papan besar terpampang di pintu masuk Sanggar, bertuliskan “Sanggar BoBo”. Terlihat gadis-gadis remaja tadi melangkah riang di tengah mendungnya langit di musim gugur. Lee Seungri, pemilik sanggar tari itu tersenyum puas melihat anak-anak didiknya itu.
“Ahh songsaengnim.... aku hampir lupa...” tiba-tiba salah seorang gadis itu berbalik dan kembali menghampiri gurunya itu.
“Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?”
“Aniya.. aku hanya lupa menyerahkan ini...” Gadis berkepang dua itu mengambil secarik kertas dari dalam tas punggung bertuliskan Adidas, dan menyerahkannya pada Seungri.
“Omo... Omo... untukku? Jinjja???” Perasaan Seungri campur aduk melihat secarik kertas bertuliskan “Tiket Super Junior KRY”.
“Ne... itu untukmu songsaengnim. Kebetulan unnieku batal menonton, jadi dari pada tidak dipakai lebih baik untukmu saja.. lagipula aku tahu songsaengnim sangat mengidolakannya.”
“Aigoooo... jeongmal gomaweo. Omo... aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.” Seungri memeluk anak didiknya itu dengan erat. Wajahnya memerah menahan kebahagian yang dia rasakan. Gadis berkepang itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah gurunya dan berpamitan pulang setelah agak lama berada dalam pelukan Seungri.
“Ckckckck... Seungri-yaa kau tidak berubah ternyata... tetap tergila-gila idolamu itu...” Seorang yeoja berambut pendek dengan cardigan kuning kunyit membalut tubuhnya yang tinggi, menepuk pundak Seungri yang masih menatap tiket di tangannya itu.
“Shinhae ??? Omo sudah lama kita tidak bertemu. Angin apa yang membawamu ke sini???”
“Aigoooo... pertanyaan macam apa itu??? hmm... aku hanya mampir. Aku dengar dari Eunhae unnie kau membuka Sanggar tari.. ternyata benar.”
“Hahaha.. bagaimana menurutmu? aku hebatkan?” tanya Seungri bangga
“Ne... tentu saja. Tidak kusangka kau berhasil mewujudkan mimpimu.. Lihatlah rombongan gadis itu. Omo.. tak kusangka mereka itu anak didikmu...Chukae...”
“Gomawoe.. akupun tak menyangka aku berhasil.”
“Dari dulu kau memang tidak berubah. Tak pernah menyerah mengejar apa yang kau inginkan. Dan sekarang dengan usahamu sendiri, kau bisa memenuhi janji omma dan appamu. Ahhh... jinjja Daebak Seungri-ya.”
“Ani... ini bukan murni dari usahaku. Kalau bukan karena dia, aku tidak bisa sampai ke tahap ini...” Seungri menatap ke atas, bukan menatap papan “Sanggar Bobo” yang terpasang gagah di pintu masuk, tapi menatap langit, menatap masa lalunya...
“Oppa.. gomoweo....” ucap Seungri lirih.


Flashback - Seungri POV
“Seungri-ya... kau pikir mudah membuat sanggar tari??? Sudahlah lupakan saja mimpi yang tak masuk akal itu. lebih baik kau meneruskan usaha Appamu saja.”
“Omma... kumohon... tolong mengertilah. Aku tidak mau sepanjang hidupku aku habiskan di belakang meja...”
“Ya~~~ lihatlah dirimu... kau ini masih kecil, tidak tahu sulitnya hidup. Kau hanya ingin selalu bersenang-senang. Apa kau pikir Sanggar tari impianmu itu bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu nanti!!!”
“Omma... “ suaraku mulai bergetar. Mungkin wajahku sudah merah saat ini menahan air yang sebentar lagi jatuh ke pipiku.
“Sudahlah... lupakan mimpimu itu... hanya kau satu satunya harapan omma dan appa. Jadi, jangan pernah kecewakan kami!”
Aku tidak bisa membantah lagi. Aku sayang omma dan appa. Sungguh aku tidak ingin mengecewakan mereka. Tapi, aku sendiri tidak bisa membohongi hatiku. Aku tak tahan lagi. Aku tidak bisa berpikir. Pikiranku kini penuh dengan wajah omma dan appa. Aku hanya bisa berlari meninggalkan omma ku yang terus memanggil namaku. Aku tak sanggup membalikkan badanku ini. Hati ini terasa perih.. air mataku jatuh... aku hanya bisa berlari dan berlari. Terkadang aku berpikir untuk bisa lari dari kenyataan hidup ini... Kenyataan bahwa mimpiku tak diakui, bahkan oleh orang-orang yang kusayang...
Suara daun-daun yang berjatuhan serasa menjadi backsound saat aku terisak di sebuah taman tak jauh dari rumahku. Angin musim gugur yang mulai terasa dingin membuat badanku bergidik setiap tiupan-tiupannya menyentuh tubuhku yang hanya memakai blouse tipis. Namun di antara tiupan-tiupan itu, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara. Suara yang lembut namun sanggup melelehkan kerasnya es.
Aku melihatnya... aku melihat seorang namja yang berdiri merentangkan tangannya menghadap danau. Wajahnya terlihat bahagia... Daun-daun yang berguguran seakan menambah keanggunannya saat melantunkan lagu. Lama aku berdiri memperhatikannya... dan senyum manis tergurat diwajahnya saat namja itu menyelesaikan nyanyiannya. Omo... hatiku berdegub...
“Aigooo...!!!!” serunya kaget saat dia berbalik dan melihatku, melihat seorang yeoja yang terlihat pucat dengan mata bengkak dan merah.
“Gwenchana???” tanyanya dengan nada khawatir. Aku hanya bisa terdiam. Otakku kosong. Dia mulai mendekatiku...
“Gwenchana???”Namja itu mengulang pertanyaannya. Sekarang jarakku dengannya hanya tinggal selangkah.
“Ahhh... n..ne... gwenchana.” Baru kali ini aku merasa sulit untuk berkata-kata. Dan otakku kembali kosong saat melihat namja itu menyunggingkan senyuman.
Rambutnya hitam, kelihatannya dia lebih tua denganku 3 tahun, dan jika dilihat, kepalanya termasuk besar bila dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Auranya pun berbeda dengan kebanyakan orang yang pernah aku temui. Tapi entah kenapa, aku tidak merasa aneh dan takut dengan orang asing yang ada di hadapanku ini.
“Apa kau menangis???” tanyanya lagi.
“Ahhh... ani.. aniyaa... ada sesuatu yang masuk ke mataku.”
“Hahahaha... kelihatannya kau bukan tipe yeoja yang pintar berbohong... apa kau baru saja diputuskan pacarmu?”
“Mwo????” apa-apaan namja ini... apa dia sedang menggodaku...
“Aishhhh... mianhae.. aku hanya bercanda...” Namja itu buru-buru menghentikan tawanya saat melihat wajahku yang terlihat kaget.
“Ne.. arraseo...Ngggg... apa kau seorang penyanyi???” tanyaku tiba-tiba.
“Mwo??? Wae??? Apa kau dari tadi mendengarkan aku bernyanyi???”
“Aniyaaa...aku... aku tidak sengaja mendengarnya.” Jawabku gugup
“Hahaha... ya sebentar lagi aku akan menjadi seorang penyanyi.”Namja itu tersenyum lagi saat mengatakannya. Dan hatiku lagi-lagi berdebar melihat senyumannya itu.
“Sebentar lagi???”
“Ne... aku sedang mengusahakannya. Mimpiku adalah menjadi seorang penyanyi. Berdiri ditengah panggung, berdiri di tengah penonton yang terus mengelukan namaku.”
“Huwaaaahhh... hebat sekali.”
“Hebat??? Apa yang hebat??? Apa kau tidak memiliki mimpi hebat seperti itu???
“Aku???” tanyaku kaget
“Ne... semua orang pasti punya mimpi, karena setiap orang punya hati, dan hati akan memberitahu apa yang sebenarnya yang kau inginkan dalam hidupmu.”
“Ahhh.. gurae... sebenarnya, aku aku juga punya mimpi. Aku ingin menjadi penari dan mendirikan sebuah sanggar tari.” Jawabku malu-malu
“Mwo??? Sanggar tari???”
“Wae??? Apa kau juga akan menertawakannya???”
“Aniya... untuk apa aku tertawa. Menurutku itu hebat. Yeoja seusiamu sudah punya mimpi sebesar itu. Tak mudah membuat sanggar dan sejenisnya. Kau tau itu?“
“Arraseo... mungkin itu sebabnya omma dan appaku menentang keras keinginanku itu.” Aku kembali teringat wajah appa dan ommaku yang selalu marah setiap aku berlatih menari. Dan tanpa kusadari air mataku jatuh kembali...
“Jadi.. orang tuamu tidak mendukung??? Ahhh... jadi itu sebabnya kau menangis???” Namja itu menatapku tajam, dan tiba-tiba dia melepas jaketnya.. dan dan memakaikannya padaku.
“Ya~~~ apa yang kau lakukan???” sontak aku kaget melihat kelakukan namja yang di luar dugaan. Apa dia maniak atau sejenisnya???
“Aishhhh... lihatlah dirimu itu, memakai blouse tipis di saat dingin, apa kau tidak sadar dari tadi tubuhmu menggigil???”
Yah dia benar... badanku bergetar. Aku tak tahu entah karena hawa dingin yang menusuk, atau karena tangisan dalam hatiku ini...
“Sudahlah.. orang tua terkadang tak mengerti pikiran anak muda... Mereka hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi mereka melakukannya dengan cara yang salah. Jadi... apa kau akan menyerah begitu saja???”dia kembali menatapku tajam. OmO matanya mengingatkanku pada mata elang yang sedang mengincar mangsanya. Omo... namja ini benar-benar...
“Tentu saja tidak... aku tetap ingin mewujudkannya. Bahkan aku sering membohongi mereka untuk pergi berlatih tari.”
“Ya~~~ tidak baik membohongi orangtua.”
“Mwo??? Jadi... apa yang harus aku lakukan???” perkataannya membuatku semakin bingung.
“Hmmm.... kau bisa melakukannya dengan sistem barter?”
“Barter?”
“Ne... kau harus memberikan sesuatu kepada mereka agar mereka mau memberikanmu kesempatan untuk mengejar mimpimu.”
“Waeguro??? Apa yang bisa kuberikan kepada mereka. Aku tidak punya uang.”
“Aishhh... babo... semua tidak diukur dengan uang. Ya~ apa yang paling mereka inginkan darimu?”
“Hmmm... mereka ingin aku nanti meneruskan usaha appaku.”
“Guraeso... maka, jadilah seperti itu!”
“Mwo??? Apa maksudmu? Tadi kau bilang aku harus terus mengejar mimpiku. Dan sekarang kau bilang aku  harus menuruti orang tuaku???”
“Ya~~ babo... aku tadi bilang sistem barter. Kau penuhi keinginan orangtuamu itu. Kau bisa meneruskan usaha appamu itu, dan kau bisa berusaha mendirikan sanggar impianmu itu.”
“Mwo?? Jadi aku harus bekerja double?? Aissshhhh.. jinjja..
“Ahhh baiklah aku harus pergi sekarang. Pertimbangkan saranku tadi okey.” Namja itu kembali tersenyum padaku dan mengacak-acak rambutku dengan telapak tangannya yang kecil untuk ukuran seorang namja. Aigoooo... hatiku lagi-lagi berdetak kencang... Sebelum aku bisa mengontrol debaran jantungku ini, namja itu sudah melangkahkan kakinya untuk pergi.
“Ya~~~ jakutmu!!!” seruku memanggilnya sambil melepas jaketnya yang sedari tadi melekat ditubuhku
“Hmmm... simpanlah saja. Kelihatannya kau lebih membutuhkannya.. Atau... kau bisa mengembalikannya saat aku mengunjungi sanggar impianmu itu.”
“Mwo????”
Namja itu tak memperdulikanku yang terkejut mendengar perkataannya. Dia tetap melanjutkan langkahnya. Tapi tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan badannya...
“Ngomong-ngomong.. aku senang bertemu dengamu nonna... baru kali ini aku bertemu yeoja yang sama-sama berkepala besar hahahahahahaha...”

Flashback END


To be continue alias bersambung....


The Lift The Dream and The Love (Hae couple)

Annyeong chinguuuu...
Ini tu ceritanya FF perdana Author... 
Sebenernya pertama kali buat FF niatnya bikin cerita tentang Yesung n my beloved friend Pita hohoho... Tapi dikarenakan keterbatasan imajinasi author tentang Yesung, so dengan terpaksa di pending dulu hehehe... Mianhae... 
Dan karena Authornya Elfish, jadi inspirasi dateng malem-malem buat bikin ni cerita....
So so so silahkan menikmati FF perdana...
Jangan lupa kritik dan sarannya ya...
Dan mohon doanya biar author bisa buat FF baru lagi, dan lebih bagus lagi :D
Gomawoe.....






Author POV

“Ya~~~ Shinhae-ya... lama sekali kau ini???” Ujar seorang namja yang berdiri didepan lift dan terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telepon.

“Baiklah aku menunggumu di dekat lift. Cepat kesini sebelum seseorang memergokiku.”

 “Aissshhhh... jinjja... apa pantas Lee Donghae, seorang idola sepertiku harus berdiri menunggu di depan lift seperti orang bodoh!!!” Namja itu mengumpat kesal sambil menutup handphonenya.

Donghae yang sekarang bersandar pada tembok di sebelah lift, tetap terlihat tampan dengan topi abu-abu bertuliskan “New York” dan kacamata hitam, khas seorang idola yang sedang menyamar. Tak lama, dari arah samping terlihat seorang yeoja berambut panjang lewat di depannya dan berhenti di depan lift. Melihat yeoja itu membuat Donghae teringat akan masa lalunya, lebih tepatnya masa lalu yang membuatnya percaya akan keajaiban cinta...

Flashback Donghae POV

“Mwo??? Keajaiban cinta??? ”


“Ne.... apa kau tidak percaya tentang itu Heechul hyung?”


“Hahahahaha... Donghae-ya... kau sungguh polos... apa kau pikir jodoh itu tiba-tiba jatuh dari langit tanpa perlu kau cari, dan Tuhan memberimu petunjuk lewat mimpi??? pantas saja sampai sekarang kau masih single...”


Aku sungguh kesal melihat Heechul hyung yang menertawakan keyakinanku itu. Apanya yang lucu ??? Bukankah itu sungguh romantis... kau bermimpi bertemu cintamu, dan itu terwujud dalam kehidupan nyata.


“Heechul-ah jangan tertawakan dongsaengmu seperti itu.. Lihatlah matanya sudah merah... aku tidak mau tahu jika sungai dimatanya itu meluap lagi.” Leeteuk hyung buru-buru menghentikan tawa Heechul yang terlihat sangat senang menggoda dongsaengnya itu.


“Donghae-ya sudahlah... Heechul hanya menggodamu saja... ayo siap-siap, kita ada pemotretan hari ini.” Lanjutnya
Aku hanya menganggukan kepala pelan dan berjalan gontai menuju kamarku. Aigoooo... kenapa semua orang selalu tertawa setiap kali aku bercerita tentang hal itu. Bahkan perut eunhyuk sampai kram mendengar itu.


Malam harinya,


Saat itu tiba-tiba saja aku berada di dalam lift sendirian. Benar-benar sepi...

Tak lama pintu lift itu terbuka...


Berdiri dihadapanku seorang yeoja berambut panjang lurus yang jatuh di antara pundaknya...


 Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.. sesaat kupikir dia itu hantu atau apa... tapi kakinya menginjak tanah, dan pakaiannya bukanlah dress putih panjang kotor seperti di film-film...

 Entah mengapa yang terlihat jelas adalah gantungan kunci perak berkilau bertuliskan LOVE yang bergelantungan di tas kecilnya...


 Sebelum aku sempat menyapa yeoja itu, aku terbangun dari tidurku...


Aku terbangun dengan keringat yang yang mengalir di antara pelipis dan leherku...


Aku menengok ke arah Leeteuk hyung yang masih tertidur pulas di atas ranjang putihnya...


“Aneh sekali mimpiku kali ini... Aigoooo... bahkan jantungku berdebar kencang... Apa maksudnya...” Malam itu aku tidak bisa kembali tidur, mataku sulit aku pejamkan. Aku terjaga sampai sinar matahari terlihat menyusup melalui cela-cela jendela putih di apartemenku...



Seminggu kemudian,


“Ya~~ hyung... aku sudah sampai,  aku akan segara ke atas...,hanya tinggal menunggu lift saja.” Aku menutup handphone saat pintu lift sudah terbuka.


“Untunglah liftnya kosong.” Batinku


“GUBRAKKKKKKK....”

Sesaat sebelum pintu lift tertutup, terdengar suara benda jatuh di luar lift. Buru-buru aku menahan pintu lift dan hendak keluar melihat apa yang terjadi. Tapi sebelum aku melangkah keluar, seorang yeoja yang terlihat terburu-buru menghalangiku melihat apa yang terjadi.


“Maaf.. apa kau akan ke atas?” tanyanya sambil terengah


“Mwo??? Ah ne... aku ingin ke atas.”


“Baiklah.. aku terburu-buru, jadi bolehkah aku menutup pintunya sekarang???”


“Ne... ne.. silahkan.”
Aku segera mengurungkan niatku untuk melangkah keluar dan kembali masuk ke dalam lift.

Yeoja itu berambut panjang dan itu mengingatkanku akan mimpiku seminggu yang lalu. Tapi bedanya yeoja ini berambut panjang bergelombang. Sesekali aku meliriknya. Terlihat sekali yeoja ini sedang di buru waktu. Dahinya sedikit berkeringat, dan nafasnya masih terpatah patah, seperti habis berlari maraton.


“Ting...” Lift ini berhenti di lantai 5, setelah pintu lift terbuka, yeoja itu buru-buru keluar, tapi sesuatu terjatuh dari tasnya.


“Omo.. gantungan kunci itu...” aku kaget bukan main melihat benda yang jatuh itu. Jelas-jelas aku melihat gantungan kunci persis seperti gantungan yang ada di dalam mimpiku. Bahkan kilauannya masih terekam jelas di mataku.


“Ya~~~ Nonna... gantungan kuncimu jatuh...”Buru-buru aku memungut gantungan LOVE ditengah pintu lift dan berusaha memanggil yeoja itu. Yeoja itu berhenti mendengar panggilanku.


“Mwo??? Gantungan??? Ahhhh... untukmu saja... maaf aku buru-buru.” Yeoja itu hanya tersenyum dan meninggalkanku yang berdiri terpaku di depan lift yang sekarang menutup kembali.







Aku tidak bisa melupakan kejadian di lift seminggu yang lalu.... Aigoooo... sepertinya aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku harus menemukan yeoja itu lagi... aku tidak bisa berkonsentrasi melakukan apapun. Bahkan pemotretan hari ini terasa berat. Senyumku sulit tersungging di wajahku ini. Berkali-kali Leeteuk hyung menegurku.. Aishhh jinjja...


 “Baiklah kita istirahat 10 menit...”Seru fotografer Jang saat selesai mengambil foto kami ber-13.


Aku merasa sangat lelah. Akupun pergi meninggalkan lokasi pemotretan untuk mencari udara segar...


“Ahhh kumohon bawalah pikiran-pikiran aneh ini terbang bersamamu.” Ujarku pada angin yang berhembus pelan... Lama aku memejamkan mata... berusaha menenangkan otakku yang terus bekerja 24 jam nonstop.


“Donghae-shiii... manager memanggilmu..” terdengar suara seorang yeoja memanggilku.


“Ne... goma...wo...” kata-kataku terputus saat aku menatap yeoja itu.


"Kau.. kau yang waktu itu???” tanyaku masih dalam keadaan syok.


“Mwo???” yeoja itu terlihat bingung.


“Kau yang waktu itu terburu-buru naik lift. Seminggu yang lalu...”


“Lift???? Ahhhh... ya... bagaimana kau bisa mengingatnya Donghae-shii?” yeoja itu tersenyum, mengerti akan apa maksudku.


“Benar kau yeoja yang waktu itu??? Hahahahahahahaha....” rasanya ada gelembung yang pecah di otakku, gelembung yang selama ini mengganjal. Yeoja itu semakin bingung melihatku yang tiba-tiba tertawa. Mungkin dia berpikir aku sudah gila. Ya memang... aku gila.. gila karena cinta...




Sebulan sudah sejak aku berkenalan dengan Gyo Yunshi, yeoja yang “secara kebetulan” bertemu denganku di lift. Yunshi adalah seorang fotografer. Seringnya Super Junior mengadakan pemotretan, membuat aku sering bertemu dengannya. Yunshi adalah seorang yeoja yang lucu. Dia bisa membuatku selalu tertawa. Aku merasa nyaman berada di sisinya.

Hari-hariku serasa bahagia, dan hari itu adalah hari yang paling membuatku bahagia. Hari dimana Yunshi berkata “iya” saat aku memintanya untuk menjadi Yeojachinguku. Dan sekarang kami merayakan bulan ke-6  anniversary kami...


“Oppa... aku membuatkan bekal untukmu... makanlah.”Ujar Yushin sambil menyerahkan bungkusan besar berisi kotak makan.


“Hahaha... Ya~~~ apa mukaku sejelek ini???” Aku tertawa saat melihat wajahku kini berada di dalam kotak makan.


“Aishhhh... apa kau tidak tahu sulit sekali membuat segumpal nasi itu menjadi mirip wajahmu. Salahkan ommamu karena telah melahirkan namja setampan dirimu. Itu sudah lumayan.. makanlah...”


“Ne.. ne... arraseo... Gomawoe jagi.” Pipinya memerah saat tiba-tiba aku mencium pipi chubbynya itu. Dan senyum kecil tersungging di kedua lesung pipinya.


“Ng... Donghae oppa... sepertinya sebulan nanti aku tidak bisa bertemu denganmu.” Ujarnya sambil menata kembali kotak bekal yang sekarang sudah kosong.


“Mwo?? Wae??”


“Aku... aku ada pekerjaan. Aku ada proyek pemotretan di Pulau jeju.”


“Omo... pulau jeju???Lagii??? Aigoooo... bagaimana aku bisa bertahan tanpa mencubit pipimu itu???”Aku mencubit pipinya yang mirip seperti bakpao...


“Ya~~ Oppa sakitttt...???” protesnya


“Sering sekali kau pergi ke pulau itu??? kuperhatikan 2 bulan sekali kau pasti kesana.”


“Aku juga tidak tahu. Aku hanya mengikuti perintah bosku.” Jawabnya tanpa melihatku.


“Huffff... baiklah aku ijinkan lagi kau ke sana.. tapi ingat kau harus memberiku kabar setiap hari, setiap menit, setiap detik.” Aku menarik tubuh kecilnya itu dan memeluknya erat. Tercium wangi rambutnya yang bergelombang. Aku akan sangat merindukannya.


“Ne.. baiklah.” Ujarnya dan membalas pelukanku.




Tiga minggu sudah aku hanya bisa berhubungan dengan Yunshi lewat telephone dan sms. Rasanya hari demi hari aku merindukan pipinya itu. Waktu serasa berjalan sangat lambat...


“Ya~~ Jagi... apa kau tidak bisa mempercepat kepulanganmu?” tanyaku saat menelponnya.


“Aniya oppa... aku bisa menyalahi kontrak kalau begitu... Tunggu.. aku harus pergi sekarang oppa... nanti aku telpon lagi...”


“Tuuutt... tuuut... tuuuttt...”

Belum sempat aku membuka mulutku untuk menjawab, dia sudah menutupnya. Bahkan dia tidak mengucapkan “Saranghae Oppa” seperti biasanya. Akhir-akhir ini dia sering melakukannya, lama membalas smsku, dan tiba-tiba menutup telponnya dengan alasan sibuk. Ya~~ harusnya aku yang melakukannya, bukankah aku yang berada di posisi orang sibuk sebagai idola Korea!!! Aishhhh... lama-lama aku bisa gila.




“Donghae~ya kau terlihat galau akhir-akhir ini??? Apa Yunshi tidak menghubungimu?” tanya Heechul Hyung yang duduk disebelahku saat break syuting Star Golden Bell.


“Ahhh aniya... hanya saja sikapnya sedikti berbeda. Aku hanya mengkhawatirkannya.”


“Bersabarlah... mungkin dia benar-benar sibuk...bukankah dia sudah ditakdirkan untuk menjadi jodohmu???” Lagi-lagi Heechul hyung menyunggingkan senyum evilnya.

‘Hyungg.. kau mau menggodaku lagi ya???? Aisssshhhhhh....”


Ya aku hanya bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa Yunshi adalah jodohku. Jodoh yang dikirimkan Tuhan lewat mimpiku. Gantungan kunci ini menjadi buktinya. Aku memang masih menyimpan gantungan LOVE itu. Aku hanya belum menemukan waktu yang pas untuk mengembalikannya pada Yunshi.





Tapi suatu hari keyakinanku mulai goyah...


“Aishhhhh... kenapa Yunshi tidak mengangkat telponku???” Berkali-kali aku mencoba menghubunginya...


“Yeobboseo...” belum sempat aku melanjutkan umpatanku, akhirnya telponku dijawab juga. Tapi... omo...Sejak kapan suara Yunshi berubah menjadi berat...


“Yeobboseo... siapa ini?” tanya suara itu.


“Mwo??? Harusnya aku yang bertanya. Siapa ini??? Bukankah handphone yang kau pegang itu bukan milikmu?”


“Aku pac...”


“Tuuut.. tutttt....” belum sempat namja itu menjawab tiba-tiba koneksi kamu terputus. Bukan karena sinyal tapi memang sengaja dimatikan.


“Yeobboseo... yeobboseo...!!! aissshhh jinjja... siapa namja itu!!!!” Emosiku mulai naik. Aku mencoba menghubungi Yunshi lagi. Tapi tetap saja tak ada jawaban.



Di dorm,

“Hyung... apa kau tahu nomor Fotografer Jang?”


“Ne.. aku punya. Mwo??? Kenapa tiba-tiba menanyakannya? Ya~~ kenapa mukamu seperti devil?? Ada apa?” tanya Leeteuk hyung khawatir.


“Ani... aku hanya harus memastikan sesuatu.”





Aku bergegas menghubungi Fotografer Jang, boz Yunshi, dan mengajaknya untuk bertemu. Entah kenapa aku melakukannya. Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah...


“Pulau Jeju???”


“Ne... bukankah kau ada proyek selama sebulan di sana?” tanyaku menggebu pada fotografer Jang. Suasana di cafe yang tenang dan diiringi backsound jazz tidak bisa membuatku tenang.


“Ani... bahkan sebulan ini aku meliburkan timku untuk istirahat.”


“Mwo???? Libur??? Tapi.. tapi Yunshi bilang kalian ada pemotretan selama sebulan di pulau jeju.” Hatiku berdegub kencang. Hatiku serasa di remas. Aku bisa merasakan aliaran darahku naik begitu cepat ke dalam otakku.


“Prankkkkk....”

Suara gelas yang pecah telah membuat seluruh tamu di cafe itu menengok ke arah kami.


“Donghae-yaaaa... apa yang kau lakukan!!!” Seru fotografer Jang panik melihatku meremas gelas yang ada ditanganku. Darah merah mengalir disela-sela jariku. Tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali. Aku rasa pecahan gelas itu meloncat menembus kulit dan masuk ke jantungku...






Lima hari kemudian,


Dia berdiri di depanku dengan wajah yang selama ini belum pernah aku lihat. Yeoja yang selama ini kupikir adalah jodohku itu belum pernah menunjukkan wajah sedih seperti itu.


“Oppa...”Ada nada kegetiran dalam ucapannya, dan aku sama sekali tidak menyukainya.


“Mianhae... jeongmal mianhae...” Aku hanya diam membisu. Ucapan yang keluar dari bibir mungilnya itu tidak bisa sampai ke telingaku.


“Oppa... kumohon... katakan sesuatu...”


“Mwo??? Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus berkata... Ne... chonmaneyo... aku memaafkanmu... begitukah? Itu yang kau inginkan Yunshi???”


“Ya~ oppa... aku tahu aku salah.. aku telah menyakitimu... tapi bukan maksudku.” Aku melihat yeoja yang aku sayangi itu mulai meneteskan air mata.


“Lalu apa maksudmu??? Apa maksudmu selama ini menduakanku???Apa itu semacam HOBIMU???” suaraku mulai meninggi. Aku tidak bisa berpikir lagi. Aku tidak bisa lagi merengkuhnya dalam pelukanku dan menghapus air mata yang kini mengalir melewati pipi-pipinya yang memerah.


“OPPA!!!”Suaranya bergetar hebat. Tangisannya semakin kencang.


“Aku mencintaimu.. sungguh aku mencintaimu...” lanjutnya.


“Mwo??? Cinta??? Setiap bulan kau bergantian bersamaku dan bersama namja berengsek itu!!! bahkan kau tetap berhubungan dengannya saat kau bersamaku!!! Apa itu yang kau sebut cinta!!!” Aku tidak tahan lagi... Kini tidak hanya darah yang naik, tapi air mataku juga mulai naik ke dalam saluran mataku...


“Ne... aku memang salah... aku tidak bisa memilih di antara kalian. Aku benar-benar jatuh cinta padamu Oppa... Kau memperlakukanku seperti aku adalah satu-satunya orang yang berharga dalam hidupmu...” Yunshi tertunduk saat mengatakan itu semua. Air mataku pun akhirnya jatuh, seperti halnya hatiku yang kini juga sudah jatuh...


“Tapi... tapi... aku juga mencintainya. Dia ada bersamaku sejak aku kecil. Aku sudah menganggapnya seperti penjagaku. Dan saat dia pergi meninggalkanku ke Perancis, hatiku hancur. Dan kau berhasil mengobatinya oppa...” lanjutnya, masih dengan terisak.


“Dan kau kembali ke dalam pelukannya saat dia kembali lagi...”Aku melanjutkan kata-kata yang tidak bisa dia ucapkan. Aku sendiri sudah tidak bisa mengontrol suaraku. Aissshhhh... air mata ini terus saja menetes, membuatku sulit untuk berkonsentrasi.


 “Oppa... jeongmal mianhae...”


Aku menyerah... Aku tidak bisa lagi menatap wajahnya.. hatiku kali ini benar-benar terasa sakit...


“Ne... aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sebaiknya kita akhiri sampai disini saja.”


Aku sudah melangkahka kakiku untuk pergi. Tapi aku teringat sesuatu.


“ Sebelumnya aku harus mengembalikan apa yang seharusnya aku kembalikan dari dulu.” Aku merogoh kantong dalam mantelku dan menarik sebuah gantungan perak LOVE...


“Mwo??? Apa ini???” Yunshi terlihat heran saat melihatnya.


“Bukankah ini milikmu?? Kau menjatuhkannya saat di lift waktu itu.”


“Ani... itu bukan milikku...”


“Mwooo???”


“Sepertinya itu milik yeoja yang aku tabrak waktu itu.”

Flashback End





“Ya~~ oppa... mianhae aku membuatmu menunggu.” Suara yeoja yang sangat kukenal menyadarkanku dari lamunan masa lalu.

“Ahh Shinhae-ya.. akhirnya kau datang.” Tanpa sadar aku memeluknya erat, rasanya aku sangat merindukan yeoja ini.. aku tidak ingin melepaskannya.

“Oppa... apa yang kau lakukan???? Ya~~ cepat lepaskan aku sebelum ada yang melihat.” Yeoja yang sangat kucintai itu meronta di dalam pelukanku.

“Saranghae Shinhae-ya....”

“Aku tahu.. aku tahu itu.. Sekarang lepaskan aku!!!” Terpaksa aku melepaskan pelukanku sebelum kakiku terluka karena injakan kakinya.

“Aigoooo... apa tidak bisa kau manis sedikit??? Kau menginjak kaki pangeran tampan idola seluruh korea.”

“Oppa... apa kau menabrak lagi hari ini??? Apa kepalamu terluka lagi???” tiba-tiba dia menempelkan tangannya, memeriksa apakah kepalaku baik-baik saja atau tidak.

“Aniyaaaaa... sudahlah ayo kita pergi. Semua sudah menunggu.” Aku mengacak-acak rambutnya yang pendek. Aku suka sekali menyentuh rambutnya yang lembut itu.


Aku menggandeng tangannya erat dan kami berjalan menuju lift, tapi tiba-tiba Shinhae tersandung dan membuat tasnya jatuh dan membuat isinya berserakan kemana-mana.

“Ya~~~ sepertinya kau memang lebih pandai menyetir dari pada berjalan.” Godaku sambil membantunya membereskan barang-barangnya. Aku hanya tersenyum melihatnya melotot padaku.

“Omo.. siapa yeoja ini?” tanyaku saat aku menemukan sebuah foto. Disana berdiri seorang yeoja berambut panjang lurus, diampit dua orang yang sudah pasti adalah orang tuanya.

“Nugu???? Ow.. itu aku.” Jawab Shinhae saat melihat foto yeoja yang aku tunjuk.

“Mwo???? Dulu rambutmu panjang??? Tanyaku tak percaya. Yeoja yang ada difoto itu mengingatkanku pada mimpi anehku lagi.

“Ne... dulu aku berambut panjang.. Bagaimana??? Aku cantikkan??? Ya~~ oppa.. kenapa ekspresimu tiba-tiba begitu??? Apa kau begitu terpesona melihatnya?

Rambut panjang lurus yang terlihat jatuh kepundaknya itu bukan satu-satunya hal yang membuatku terdiam dan tidak menghiraukan ucapan Shinhae. Mataku kini fokus pada benda berkilau yang menghiasi tas kecil biru dalam pangkuan yeoja itu.

“Shinhae-ya.. apa gantungan ini berbentuk tulisan LOVE?”

“Mwo??? Ahhh ne... itu gantungan perak kesukaanku.. tapi sayang aku menghilangkannya.”

“Hilang?” Jantungku tiba-tiba berdetak  kencang.

“Ne... sepertinya hilang saat seorang yeoja menabrakku saat aku akan naik lift. Yeoja itu terlihat terburu-buru sekali.
Ahhh... padahal gantungan itu pemberian almarhum nenekku.”

Jantungku kini berdetak lebih kencang mendengar cerita Shinhae. Buru-buru aku mencari benda yang selama ini kuanggap benda keramat di dalam tasku.

“Apa ini gantunganmu?” aku menyerahkan benda berbentuk LOVE itu ketangan Shinhae.

“Omo.. Omo... bagaimana... bagaimana benda yang sudah bertahun-tahun hilang ini ada padamu???? Omo... bahkan goresan pada huruf L masih ada. Ya~~ oppa.. bagaimana ini bisa ada padamu?” Shinhae terlihat kaget. Begitu pula diriku.

Tulang-tulangku terasa rontok. Badanku tiba-tiba lemas. Aku terduduk dan bersandar pada tembok. Aku menutup mataku dan tiba-tiba pikiranku terasa cerah, seperti matahari ditengah musim semi. Aku membuka mataku dan menatap yeoja di depanku dengan senyuman terlebar yang pernah aku lakukan. Dia terlihat bingung melihat tingkahku...

“Oppa.. apa benar kau baik-baik saja???”

Aku masih terseyum dan menatap mata Shinhae. Aku menarik tangannya dan lagi lagi aku memeluknya erat, mengacak acak kepalanya, mencium keningnya berulang-ulang. Aku tidak memperdulikan Shinhae yang kaget bukan main melihat tingkahku yang seperti orang gila.

“Shinhae-ya... kau tidak boleh meninggalkanku. Kau hanya boleh bersamaku. Kau hanya boleh menatapku. Karena kau hanya tercipta untukku seorang... Tuhan telah benar-benar menurunkanmu hanya untukku.”

“Mwo??? Oppa.. jinjja.. ada apa denganmu!!!”

Kali ini aku melepas pelukanku dan tertawa. Rasanya seperti ada pecahan gelas kecil yang telah tercabut dari dalam jantungku.

Segera aku mengambil handphoneku dan mencari sebuah nama di list contactku.

“Yeobboseo...???”

“Heechul hyung...” jawabku riang

“Ya~~ ada apa menelpon di tengah siaran radioku?”

“Ani.. aku hanya ingin mengatakan bahwa keajaiban cinta itu ada... mimpiku menjadi kenyataan.. hahahahahhaa”

“Mwo????” Sebelum evil hyungku itu melanjutkan perkataannya, aku telah menutup handphoneku.

Aku rasa ini hari terbaikku.

Pintu lift kini terbuka lebar. Aku memegang tangan Shinhae dengan erat, tangan yeoja yang benar-benar menjadi jodohku. Aishhhh... aku tidak menyangka begitu rumit cinta itu... begitu sakit proses yang harus dilalui untuk bisa bersama dengan belahan jiwamu yang sesungguhnya. Dan aku bersyukur telah melewati fase itu...

“Shinhae-ya.. Saranghae yeongwonhi...” Ucapku sambil menempelkan bibirku ke bibirnya, tepat saat pintu lift tertutup. Menutup masa lalu cintaku...

The End